Sunday, March 19, 2017

Handmade Nottingham Market and My Personal Views on Art and Creativity

My casual weekend outing for today goes to Handmade Nottingham Market in The Malt Cross. Actually I had been to several similar events before in Nottingham. But seems like there are always something new. Again, I feel endlessly lucky to live in a place where art is widely appreciated.


 Stalls in a cafe? Not a bad idea at all

Unlike the usual handmade products exhibition that I had attended before, this event is held in one of the most prestigious cafe in Nottingham. Whereas normally people use common spaces like convention centre, park, mall or gallery to have it.

Numerous local entrepreneurs participate in this handmade market indicates that the creativity is well supported by the government and local community. I personally adore how people appreciate handmade products here. It feels like there are always special spaces for creative persons to express their taste of art.


  • Speaking of creativity, it usually roots from the early stage of human life - childhood. People from places where art is seen as something taboo would think that nobody is going to make a living out of it. As the result, art passionate children are forced to limit their imagination just after the parents acknowledge their talent. It's very sad to know that many creative persons waste their talent to grow up working in the areas that don't allow them to explore their true passions

    Many need to know that art/creativity is not always in a form of painting or small acoustic gig. In fact, the application of art is just beyond that. Professionals like architects, fashion designers, composers, animators, interior designers, actors are the proofs that artists transform to different kind of professions


    • In our daily life, it is very clearly shown that we can never live separately from creativity. Even global companies like Google and Apple demand highly creative employees. Creativity leads to better problem solving, creation of brilliant innovation, and good state of mental health. So, isn't creativity a big deal?

      It can take my whole life to talk about this topic (well, not entirely 😅). Mostly because rejection has been part of my personal experience. I am still trying my best to channeling my own passion into something meaningful not just for me but also the people around me. To end this "another random thoughts" session, I can probably say that underestimating an art enthusiastic/creative individual is utterly shameful. Especially if we choose to be ignorant or tightly close our eyes from seeing the value of art and creativity.


    •  Outside of The Malt Cross

       


Thursday, February 9, 2017

Tolerasi? Bagaimanakah Cara Kita Menyikapinya?

Sudah lama sekali pembahasan soal tolerasi ini jadi buah pikiran saya. Sudah lama juga saya sangat ingin membuka diskusi terbuka dengan teman-teman saya supaya saya jadi lebih paham dengan situasi yang sedang terjadi. Tapi rasa takut untuk "berbicara" tampaknya lebih dominan, menimbang banyak sekali orang di luar sana yang sensitif dan cenderung menutup pemikiran untuk menerima pendapat orang lain. Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin menjelaskan bahwa saya bukanlah seorang ahli dalam bidang agama atau pun sosial-politik. Saya cuma seorang manusia biasa yang haus akan ilmu. Kebetulan saya diberikan kesempatan untuk belajar berbagai hal dari tempat satu ke tempat yang lain, berkenalan dan berteman dengan orang dari latar belakang yang beragam, dan pernah merasakan menjadi kaum minoritas dan mayoritas.

Sekian lama menunda untuk bicara, saya akhirnya memberanikan diri juga. Mungkin ini akan menuai kritikan dari teman-teman pembaca. Tapi ya sudahlah, bukankah kita diberikan kebebasan untuk beropini? Walau kadang kesempatan beropini menjadi akar sebuah perpecahan. Menurut saya, tidak ada yang salah selama kita saling menjaga rasa nyaman dengan siapa kita beropini (misalkan saja dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung). Niat saya menuliskan ini hanya ingin berbagi pendapat dari pengalaman dan pemahaman saya sejauh ini dengan segala keterbatasan pengetahuan saya.

Saya sendiri adalah seorang yang lahir dari keluarga multi-etnis. Almarhum bapak saya berdarah campuran China-Jawa, sedangkan ibu saya berdarah campuran Bangka-Sunda. Sejak kecil saya dikenalkan beberapa budaya dan sering pindah dari satu daerah ke daerah lain. Lahir dan (akhirnya) menetap di Pulau Bangka membuat saya nyaman dengan dengan multikulturisme yang berkembang di sini. Seingat saya, 30% dari jumlah penduduknya adalah etnis China yang sangat rukun dengan etnis melayu dan etnis lainnya. Bapak kerap mengajak saya untuk bersilaturrahmi dengan keluarga kami yang beretnis China, bahkan dulu dia menginginkan saya bisa berbahasa Mandarin. Teman-teman terdekat pun banyak yang berasal dari entnis tersebut. Kami bahkan melakukan kegiatan bakti sosial bersama-sama pada saat bulan Ramadhan. Sangat indah saya rasa jika hubungan baik seperti ini terjaga.

Saya bangga berasal dari Indonesia yang warna-warni suku budayanya, agama, bahasa, dan lain-lain. Rasa bangga ini selalu saya bawa ketika saya mengobrol dengan teman dari negara yang berbeda. Banyak yang tidak percaya bahwa Indonesia adalah negara "Besar" yang memiliki lebih dari 17,000 pulau dan ratusan bahasa daerah. Semangat Bhineka Tunggal Ika selalu jadi pengokoh persatuan kita. Namun akhir-akhir ini saya merasa sedih dengan isu tolerasi yang berkembang. Maafkan jika saya tidak banyak paham soal ini dikarenakan sedang berada jauh dari nusantara dan hanya mengamati lewat berita dan obrolan dari kerabat dekat. Yang sangat nyata terjadi sekarang adalah masalah perbedaan memicu keretakan persatuan yang selama ini kita junjung.

Bersama teman-teman dari ragam latar belakang di Indonesia saat program pertukaran pemuda di China

Sharing berita dan argumen yang menebarkan hatred atau kebencian pun berseliweran di media sosial. Ini tentunya menambah kekhawatiran, apalagi banyak yang menyebarkan berita palsu atau Hoax. Salahnya banyak yang membaca dan menyebarkan informasi tanpa menyaring mana yang benar dan salah. Paling nampak terjadi sekarang adalah men-judge sesuatu dengan sesuka hati tanpa melihat dari berbagai sisi. Isu tolerasi naik ke permukaan dikarenakan berhubungan dengan orang yang berpengaruh besar di negeri ini, seorang pemimpin. Hingga menuai aksi besar-besaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Saya sebetulnya sangat malas membahas hal sensitif seperti ini di sosial media, namun kemarin karena lumayan "gerah" saya pun angkat suara dengan mengajak teman-teman semua untuk berpikir terbuka dan saling memaafkan di status media sosial saya tersebut(perlu diketahui, perlu waktu setengah jam untuk berpikir apa yang harus saya tuliskan waktu itu). Namun yang ada malah saya diduga tidak membela agama yang saya yakini. Bahkan ada yang menyinggung keberadaan saya di luar negeri membuat saya kurang cinta dengan negara sendiri. Hmm, saya jadi sedih. Mungkin teman yang berpendapat seperti itu salah mencerna maksud saya, membayangkan nada bicara saya yang seolah-olah sedang meremehkan aksi yang sedang terjadi. Sejujurnya, saya sangat mendukung aksi yang mengatasnamakan kebaikan. Asalkan niat yang baik tersebut dilaksanakan dengan sebaik mungkin tanpa menuai kontroversi lain dan tidak jadi masalah yang tidak berkesudahan. Saya bersyukur masalah ini naik ke permukaan karena menunjukkan bahwa masih banyak yang peduli dan membela agama dan kepercayaannya. Namun, alangkah lebih baik jikalau kita saling memaafkan. Bukankah kita cuma manusia (bukan Tuhan) yang tidak berhak menghakimi orang lain? Apakah kita sudah merasa jadi pribadi yang lebih baik dari yang tertuduh? Pernahkah kita berpikir bagaimana jika kita menjadi kaum minoritas yang dilecehkan harga dirinya di muka umum?

Isu toleransi juga sedang memanas di negara-negara lain, Amerika Serikat misalnya. Cuma sepertinya situasinya agak terbalik. Kaum minoritas menyuarakan kenginan mereka agar diperlakukan adil oleh pemimpin mereka. Masyarakat Amerika menolak presidennya untuk menetapkan aturan baru yang menimbulkan kerugian massive (karena berhubungan dengan hajat hidup orang banyak).

Saya ingin berbagi pengalaman menjadi kaum minoritas di Inggris. Awal mula datang ke sini saya sangat pemalu dan agak waspada, takut sekali diperlakukan semena-mena seperti yang ada di media-media. Terutama karena saya memakai identitas agama saya kemana-mana: jilbab. Saya takut tampil di muka umum karena saya pikir orang akan memandang sebelah mata karena jilbab yang saya kenakan. Apalagi identitas oriental yang tidak bisa saya tutupi dari warna kulit dan mata saya membuat saya berpikir bahwa orang akan meremehkan saya sebagai seorang pendatang. Ternyata saya SALAH BESAR. Selain itu, self-esteem issue yang saya alami bukan karena judgment (yang saya khawatirkan akan keluar) dari orang lokal ataupun kaum mayoritas. Itu semua hanya ada di kepala saya. Saya belajar membuka pikiran dan berani berkenalan dengan orang yang berbeda jauh dari saya. Kadang saya mengetes apakah benar kaum mayoritas di sini memandang tolerasi dengan cara yang berbeda? Sebagai umat muslim di negara mayoritas non-muslim, jadi tantangan sendiri untuk istiqamah beribadah. Kalau di Indonesia, pada saatnya shalat dan tidak berada di rumah biasanya sangat mudah kita temui masjid atau tempat lain untuk beribadah. Tapi di sini sangat berbeda. Saat berwisata ke Manchester, saya sempat bingung ingin shalat di mana. Akhirnya saya beride untuk memakai ruang ganti (fitting room) di sebuah butik di dalam Mall. Namun saya harus mengambil baju dan berpura-pura ingin mencobanya. Karena saat itu saya tidak ingin berpura-pura sebagai pembeli, akhirnya saya jujur dengan penjaga butik tersebut bahwa saya ingin memakai fitting room mereka untuk shalat. Tanpa berpikir panjang, penjaga tersebut mempersilahkan saya untuk shalat dan mengecek ruang ganti tersebut agar saya nyaman beribadah. Di kesempatan lain, saya pernah mampir ke Tea Studio milik seorang sahabat yang berasal dari China yang beragama Budha. Saat memasuki waktu Dzuhur, saya meminta izin untuk beribadah di sana. Dengan penuh rendah hati dia mengizinkan dan berkata."Sure, I will make sure not making any noise when you are praying". Hingga sekarang dia terbiasa dengan hal tersebut tiap kali saya berkunjung. Toleransi yang sangat indah bukan?


Keseruan saat bermain games di kampus bersama teman sekelas (University of Nottingham, 2016)

Coba tebak, dari mana saja teman-teman saya ini berasal? Berbeda kepercayaan, suku, budaya bukan jadi halangan kami untuk bersahabat. Saya sangat bersyukur bisa mengenal mereka semua (University of Malaya, 2012)

Sejujurnya saya pun pernah menjadi orang yang sangat subjektif dalam menilai cara berpandang orang lain yang bebeda dari saya, hingga akhirnya menimbulkan rasa tidak nyaman dan pertengkaran. Saya pernah harus menerima kenyataan bahwa teman dekat saya seorang biseksual, dan di kasus lain saya terkejut melihat teman yang membuka jilbabnya. Jadi dilema besar bagi saya, apakah saya harus memutuskan tali silaturrahmi dengannya hanya karena persoalan itu? Haruskah saya memaksakan mereka untuk kembali  ke jalan yang benar tanpa mendengarkan kesulitan yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan mereka? Mungkin saja mereka berada dalam kondisi dan trauma yang tidak semua orang bisa pahami. Pernah juga saya marah besar dengan seorang teman kristiani yang memandang islam dari sisi berbeda, padahal dia cuma ingin bercerita tentang apa yang dia pahami. Walau pada akhirnya saya berpikir bahwa dia tidak salah mengutarakan apa yang dianggapnya benar, dan saya salah telah berperilaku semena-mena men-judge bahwa yang dia pikirkan adalah salah. Saya seharusnya lebih mendalami ilmu agama dan berperilaku baik saat menjelaskan apa yang saya percaya kepada orang lain (karena saya tidak mau karena sikap buruk saya dalam menjelaskan soal islam membuat orang lain berpikir bahwa islam adalah agama yang menebarkan kebencian). Sebagai kaum minoritas, saya juga sering dikejutkan dengan hal-hal yang di luar dari budaya dan kepercayaan yang saya anut. Misalkan saat saya dengan tidak sengaja datang ke kelas melukis yang modelnya tidak berbusana, atau datang ke suatu acara yang menyajikan makanan dan minuman non-halal. Lalu apakah saya harus protes? Saya membayangkan jika saya terus menjadi orang yang tidak bisa menerima perbedaan ini, maka saya tidak akan "berkembang", bahkan bisa jadi saya dikucilkan dari kehidupan sosial.

Kita hidup di zaman yang mana kita tidak bisa lepas dari peran satu sama lain, apapun itu latar belakangnya. Saya tidak menyalahkan mayoritas keinginan umat islam yang ingin dipimpin oleh pemimpin muslim. Tapi ada kalanya saya berpikir jikalau dalam keadaan tertentu kita tidak bisa memilih untuk "selalu" dipimpin oleh seorang muslim, apakah kita harus "menyerah"? Bagaimana nasib TKI di negara mayoritas non-muslim yang menopang hidupnya dengan bekerja di bawah kepemimpinan seorang atheis atau orang yang beragama lain? Sedangkan sangat sulit untuk mereka mencari pekerjaan di negara sendiri. Atau seperti saya, seorang mahasiswa yang belajar dari orang nasrani. Apakah saya harus memaksakan diri mencari dosen yang hanya muslim? Di kasus yang lebih serius soal tolerasi, apakah kita harus menghentikan hubungan baik dengan orang lain hanya karena kita tahu bahwa mereka berbeda dengan kita? Saya ambil contoh ketika Presiden Donald Trump memutuskan untuk membatasi jumlah imigran yang masuk ke AS. Padahal tanpa disadari yang selama ini banyak membantu perekonomian AS adalah imigran dari luar negeri, terlepas dari latar belakang mereka sebagai buruh ataupun ekspatriat.

Di banyak kesempatan saya mencoba berobservasi tentang cara orang asing memahami makna tolerasi. Sejauh ini yang dapat saya simpulkan, walaupun berbeda pendapat dan latar belakang kita bisa hidup dengan nyaman dan berdampingan satu sama lain. Berbeda pendapat tidaklah salah. Namun perlu diingat bahwa tidak selamanya apa yang kita pikirkan selalu benar di mata orang lain. Berperilaku baik saat mengutarakan pendapat tentu dapat mempermudah orang lain mengerti apa yang sebetulnya kita maksudkan. Orang akan lebih respect jika kita menggunakan bahasa yang santun dan tidak provokatif. Kita juga harus pandai membaca situasi serta meneliti secara hati-hati sumber informasi yang kita dapatkan. Saat beropini, memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang yang kita pahami tentu sangat signifikan perannya. Tetapi kita juga harus paham, bahwa kita harus mau mendengarkan apa yang orang lain pahami tanpa memaksakan orang tersebut untuk setuju dengan apa yang kita percaya. Dalam suatu situasi, kadang kita juga harus menempatkan diri kita dalam posisi yang orang lain sedang alami. Bayangkan jika masalah yang dia alami itu terjadi dalam hidup kita, apakah kita bisa melewatinya dengan mudah?

Pembahasan kali ini berat juga ya? Hehehe, semoga teman-teman pembaca paham maksud yang ingin saya utarakan. Tidak pernah sedikitpun ada niat saya untuk memecahbelahkan persatuan yang ada. Sekali lagi, saya hanyalah manusia fakir ilmu yang ingin terus belajar. Saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk cerdas dalam mengutarakan pendapat dan melihat isu tolerasi dari sudut berbeda. Saya juga sangat ingin mendengarkan apa yang teman-teman pikirkan, tidak menutup kemungkinan saya telah salah. Artinya saya juga harus terus berintrospeksi diri. Lastly, saya ingin berpesan (juga untuk diri saya sendiri) "Stay humble and be kind to others" :)



Sunday, February 5, 2017

Studi S2 (Part 3): Berburu Beasiswa LPDP (Seleksi Subtantif-Tes Wawancara)

Setelah beberapa waktu lalu rajin menulis soal pengalaman kuliah di luar negeri, alhamdulillah banyak respon positif yang saya terima. Tentu jadi kebahagiaan tersendiri bisa berkontribusi dalam kesuksesan orang lain. Saya jadi merasa segan dengan yang menanti-nanti tulisan terbaru saya, apalagi kemarin-kemarin sempat janji untuk rajin menulis hehe. So, here I am! Untuk tulisan kali ini, saya spesifikasikan soal pengalaman seleksi subtantif LPDP, terutama soal tes wawancara.

Tidak terasa sudah hampir setahun saya menerima kabar kelulusan beasiswa. Momen yang mengharukan bagi siapa saja yang menerima kabar gembira seperti ini. Semoga bagi yang sedang menanti, segera mendapatkan kabar gembira juga. Amin. Setelah diumumkan lulus tes administrasi (ceritanya bisa dibaca di sini), saya langsung menyusun strategi supaya bisa tampil prima saat tes subtantif. LPDP menyediakan beberapa lokasi tes yang bisa kita pilih. Saya sendiri memilih Jakarta sebagai lokasi tes karena mudah dijangkau dari Bangka. LPDP akan mengirimkan undangan seleksi bersama dengan jadwal dan lokasi tes. Lalu, bagaimana tipikal tes wawancara LPDP dan apa saja yang harus dipersiapkan? Berikut penjelasannya

Tes Wawancara
Tes yang satu ini biasanya yang paling bikin gundah gulana. Rasanya agak sulit untuk memberikan tips khusus dalam meleawati tes wawancara, karena sifatnya yang sangat personal. Tiap peserta tidak mendapatkan pertanyaan yang sama, bahkan interviewer-nya pun berbeda-beda. Sepengamatan saya, LPDP membagi beberapa meja wawancara sesuai dengan bidang perkuliahan yang akan diambil peserta. Interviewer terdiri atas 3 orang dengan latar belakang yang berbeda. Salah satu dari interviewer tersebut adalah psikolog, sedangkan yang lainnya adalah profesor atau dosen yang sudah lama berkecimpung di bidang masing-masing. Saya pada awalnya tidak menyadari yang mana psikolog dan akademisi. Tapi lama kelamaan saya tau dari pola pertanyaan mereka. Tugas mereka adalah mengorek sebanyak-banyaknya informasi tentang kepribadian kita, pendidikan, pengalaman, motivasi kuliah, dan hal lain yang berhubungan dengan beasiswa dan  latar belakang kita.

Durasi wawancara tiap peserta juga sangat bervariasi. Sesi wawancara saya cukup singkat (sekitar 15 menit) jika dibandingkan dengan peserta lain yang bisa sampai setengah jam ataupun lebih. Setelah keluar dari ruang wawancara, saya merasa aneh karena tidak selama yang lain, saya kuatir pewawancara tidak mengenal saya sepenuhnya hehe. Sebetulnya, lamanya wawancara somehow ditentukan oleh kita sendiri. Sejauh mana kita membatasi dan memberikan informasi kepada interviewer. Ada yang memberikan jawaban panjang lebar untuk pertanyaan yang sangat singkat, hingga membuat interviewer gesit menanyakan hal-hal di luar dugaan kita. Ada juga yang memberikan jawaban terlalu singkat sehingga kita tidak bisa memuaskan ekspektasi mereka. Very tricky right?

Ekspresi peserta setelah wawancara juga berbeda-beda. Ada yang tersenyum lebar karena merasa lega telah melakukan yang terbaik, ada juga yang menangis karena "terjebak perangkap" si penanya. Pihak LPDP tentunya ingin mengetahui seluk beluk peserta dari berbagai aspek termasuk psikologis. Tidak mungkin kita diterima kuliah ke luar negeri jika secara mental kita masih lemah, mudah terpengaruh dengan hal buruk, atau bahkan mengancam kerugian dari pihak LPDP. Oleh karena itu saat wawancara, kita dites betul-betul melalui pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadari membuat kita down. Hal sensitif seperti family issue dan kegagalan di masa lalu yang biasanya diangkat oleh interviewer. Tapi hal ini bisa disiasati lho. Menurut saya, kita harus membatasi interviewer menggali sisi sensitif kita dengan menceritakan hal-hal yang seperlunya saja, yang penting tetap jujur dan humble. Nggak perlu cengeng ya :D

Tidak hanya dari sisi psikologis yang diuji, interviewer biasanya membaca semua informasi yang telah kita kumpulkan saat seleksi administrasi. Oleh karena itu sangat penting untuk membaca ulang secara detail, apa saja yang telah kita tuliskan di sana. Persiapkan kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang akan ditanyakan interviewer seperti:
  1. Alasan kuliah
  2. Alasan ikut tes beasiswa LPDP
  3. Pilihan kampus dan jurusan, relevansinya dengan latar belakang S1
  4. Kalau mau lanjut kuliah di luar negeri, kenapa harus di negara tersebut
  5. Status Letter of Acceptance/LoA (sudah dapat LoA unconditional atau belum, kalau belum apa alasannya)
  6. Modul dan research apa yang akan diambil (dulu saya hapalkan satu-satu pilihan studi yang saya tulis di Study Plan)
  7. Apa saja yang sudah dipersiapkan untuk kampus tujuan (sudah korespondensi dengan calon dosen pembimbing atau belum)
  8. Kegiatan ekstrakulikuler apa saja yang akan dilakukan di luar kesibukan kuliah
  9. Ilmu apa yang mau dibawa pulang dan diaplikasikan di Indonesia
  10. Rencana pasca kuliah 
  11. Kontribusi apa saja yang sudah dilakukan yang berkaitan dengan bidang yang diambil
  12. Kesulitan apa yang kira-kira akan dihadapi saat menempuh studi, bagaimana cara mengatasinya
Di samping pertanyaan umum seperti di atas, kadang ada pertanyaan sampingan yang signifikan dan kadang juga ada yang agak nyeleneh, misalnya:
  1. IP kamu cuma segini, yakin bisa lulus?
  2. Kamu studi terus, kapan nikanya?
  3. Yakin akan kembali ke Indonesia setelah lulus? Kalau nanti nikah sama bule dan diminta stay di negara mereka gimana?
  4. Jurusan itu di Indonesia juga ada lho, kenapa harus kuliah di luar negeri?
  5. Sudah lama bekerja di perusahaan asing pasti gajinya gede ya, ga takut harus berhenti kerja hanya untuk kuliah lagi?
  6. (Bagi yang sudah berkeluarga) Nanti anak dan istri akan diajak juga?
  7. Apa rencanamu 10 tahun ke depan?
Jangan kuatir, yang saya tuliskan di atas bukan template pertanyaan yang selalu ditanyakan interviewer. Itu hanya berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman saya yang menempuh proses seleksi wawancara. Bisa jadi teman-teman mendapatkan pertanyaan lain.  Beberapa dari interviewer bahkan sangat akrab dengan kampus dan negara tujuan kuliah kita, untuk mewaspadainya kita harus melakukan comprehensive research. Selain gesit mencari informasi, ada baiknya juga kita membawa bukti-bukti tertentu yang bisa meyakinkan mereka. Bisa berupa previous research and publication, print-screen email dengan calon dosen di universitas tujuan, informasi soal perkembangan LoA, dan lain-lain. Tujuannya adalah agar interviewer tahu that we are very determined to further our study.

In my case, saya membawa portfolio pekerjaan saya. Isinya dokumentasi bisnis, business profile, dan kegiatan sosial yang saya lakukan sebagai bentuk CSR bisnis yang saya geluti. Saya bahkan rela membawa langsung sample produk dan menceritakan fungsinya kepada lingkungan sosial. Saya juga menjelaskan kenapa belajar di UoN akan menambah ilmu saya di masa mendatang. Banyak yang juga menginginkan kuliah di jurusan wirausaha seperti saya namun belum pernah bergelut dalam bidang itu sehingga sulit bagi mereka untuk memperlihatkan bukti-bukti tersebut. Mungkin bisa disiasati dengan membuat simple business plan dan background research soal business tersebut (apakah feasible untuk diterapkan setelah lulus kuliah).

Hal yang paling ditakuti lainnya adalah soal bahasa yang digunakan saat wawancara. Saya tidak bisa memastikan apakah wawancara akan di-deliver dalam bahasa Indonesia atau English. Karena saya sendiri 100% ditanyakan menggunakan bahasa Indonesia. Walau saya juga menyisipkan berbahasa Inggris di tengah-tengah wawancara agar interviewer tahu kemampuan bahasa saya. Di kasus lain bahkan ada peserta yang ditanyakan menggunakan English dari awal hingga akhir wawancara, ada juga yang cuma sebagian. Interviewer biasanya akan mengecek hasil TOEFL atau IELTS yang kita sisipkan. Jika hasilnya kurang memuaskan, itu akan jadi bahan pertanyaan mereka. Then we should answer it smartly :)

Tes wawancara ini sangat berpengaruh dalam keseluruhan tes subtantif karena porsi penilaiannya yang tinggi dibandingkan dengan On The Spot Essay Writing dan Leaderless Group Discussion. Tapi jangan kuatir, selagi kita mempersiapkan dengan sebaik mungkin pasti akan dipermudah. Jangan lupa menjaga kesehatan sebelum "bertanding". Berpikiran tenang juga sangat membantu kita menjawab pertanyaan sang penanya. Be ready for any worst circumstances without too much worrying of how we are going to pass it. Lastly, jangan lupa untuk tetap rendah hati. Sebanyak apapun prestasi dan pengalaman yang kita punya, sehebat apapun rencana yang kita buat akan sia-sia kalau kita menunjukkan kesombongan di depan interviewer. Kita datang ke proses seleksi ini untuk "memohon" pihak LPDP membantu merealisasikan mimpi kita, so yeah better be humble. Jangan lupa berdoa juga ya :)

I don't have any photos related to the interview session. Instead, here is a current picture of me in Wollaton Hall and Deer Park, Nottingham. Musim dingin di sini sangat gloomy, matahari jarang tampak. Tapi kemarin langit sangat cerah, jadi saya keluar rumah untuk menikmati pemandangan di sana. Hope you enjoy the rest of my pictures below :)






Tuesday, November 15, 2016

Entrepreneurship and Creativity Theoretical Learning Experience

Few weeks ago I promised my friends to share our study experience in University of Nottingham (UoN). It is definitely a whole different study experience for me here compared to my previous ones. I don't know if it's just my mood, the cultures that shapes the people's personality and way of thinking, the study environment, or the lecturers who are very great at delivering their modules. But for sure, It just takes me to another new level! Kinda funny because somehow it always drives my excitement to wake up in the morning to receive new knowledge. When things are really exciting and steal my focus, I barely jump into my phone. It's an excellent indication I supposed. Except for the part when I don't have enough sleep at night and get very sleepy in the class. LOL. But I can tackle this issue very easily. Thanks for the nearby coffee shop for making me befriends with coffee. XD

My main purpose of writing this is to share my study experience in Entrepreneurship and Creativity module. It is the first module taught in autumn semester. In my opinion, it was indeed a very important yet interesting module for me to deepen my basic understanding about entrepreneurship and creativity. In this module, we were given 2 assignments. The first one is individual reflective essay writing which basically asks us to evaluate all the things that have been taught in the class, including the theoretical and practical knowledge, frameworks used to deliver the knowledge, group work experience, etc. Meanwhile the second assignment is group assignment which allows us to implement all the theoretical learning experience into practice. It's kinda similar with group business challenge. However, this post will firstly cover my personal understanding of entrepreneurship and creativity in regards with my study experience in class, some reading materials and various entrepreneurship talks.
A little glimpse of my current artworks and some reading materials

The first class of this module was started with an introduction about entrepreneurship. We were asked to list down our own definition of entrepreneurship. Some mentioned about characteristics and skills needed by an entrepreneur like risk taker, problem solver, adaptive, opportunistic, proactive, and so on. All of these are actually very critical to becoming a successful entrepreneur. There are variant definitions of entrepreneurship described by the scholars depending on the time period (because entrepreneurship has been gradually developed since the establishment of agriculture era until now). In a nutshell, entrepreneurship is defined as a process practiced by a person by discovering opportunities. Unlike the normal people, entrepreneurs take opportunities into different level. Entrepreneur is interpreted as a person who is alert to the market opportunity and come up with creative ideas and then turn them into business. However it is very important for an entrepreneur to exercise entrepreneurial skills in order to gain maximum profit.

I was very fascinated by the theory of intellectual capital introduced by my lecturer. It consists of human capital, social capital, and organizational capital. The effectiveness of a business’ organizational management is depending on maximizing the use of them. Human capital is the knowledge and skills (intangible assets) of an entrepreneur which has big potential to exploit financial capital (the tangible assets). Development of human capital increases the capability of a business to generate profit. As an entrepreneur, sometimes I worry if my entrepreneurial skills is very lacking to develop my ideas and business. In fact, it is not the only thing I should think of. We should not forget the significance of human interaction in the social life, because networking is also very crucial to our business. Social capital enables human capital to realize its potential, besides it also helps entrepreneurs to generate conducive market environment and widen their market coverage. OK, now it starts to sound very serious haha.

To be honest, I am always enthusiastic to learn about human psychology. And this module somehow drives me even more crazily. Do you know that everyone has different nature on processing knowledge and solving a problem? Since we were given a group project (business challenge assignment), we should be divided into groups. In the group formation process, Mr. Chris Mahon divided us into groups based on the result of Human Brain Dominance Instrument (HBDI) test. It's some kinda psychological instrument used to identify our thinking preference. By taking this test, I get to know what my profile is and what skills I need to enhance in regards with entrepreneurship. In the group, we all have different HBDI profiles, however this diversity helps us to comprehend each other's strengths and weaknesses. I was in the group with people whom I got to learn a lot from. Each of them has unique personality, education background and professional experience. I even learned how to embrace multiculturalism in this short period of time. How cool that is! :) 

In term of defining creativity, people also have different way of defining it. In simple term, creativity is the process of bringing up ideas into use. According to Mark A. Runco, it is correlated with intelligence, imagination, originality, and effectiveness. Intelligence encourages a person’s creativity. Due to the concept of radical innovation, originality plays huge contribution and hard to separate from creativity because creative things are always original. Moreover, original things must be effective to be creative. It takes the form of usefulness in an innovation. This effectiveness must also consider the fact that valuable products and ideas depending on what the market needs.

In accordance with radical innovation, we often discussed about Joseph Schumpeter's idea of radical innovation in the class. He appeared with an extraordinary theory of entrepreneurship. He pointed out the significant role of entrepreneurs in economic development and the emergence of radical innovation as creative destruction. Schumpeter also defined entrepreneur as an innovator who brings radical changes through the introduction of new technological process or product. He valued the novelty of an innovation as genuine outcome of radical innovation. If it’s hard for you to get the meaning of radical innovation, we can take an example of the emergence of Media Player (as if MP3) which totally replaced the used of Compact Disc (CD). This technology is considered very radical since it provides a whole different experience of listening to music compare to CD. It also changed the culture of people listening to music. The originality of this radical innovation enables us to add as many music collections as we want in the form of soft files (this easiness is original and never existed before). Therefore we don't have to worry carrying a lot of CDs to listen to variant songs. 

The emergence of radical innovation is a result of lateral thinking. Lateral thinking is almost the same with the concept of thinking out of the box. As a decision maker, entrepreneurs are required to see things from different angles. Besides, it allows us to be flexible and explorative by solving problems with different perceptions, patterns, and methods. I found the concept of lateral thinking is similar with divergent thinking which involves generating multiple alternative solutions and unexpected combinations. Divergent thinking is very important because of its tendency to produce novel ideas. Meanwhile convergent thinking is more oriented to single best answer, emphasize on the accurancy, speed and logic. 

I recently read a book entitled “Oh My Goodness: A Personal Guide to become Creative Junkies” written by Indonesian author, Yoris Sebastian. I can’t give full review to this book because I haven’t finished reading it. At my first glance, I can tell that this book is like one of those anti-mainstream books (it’s written in both English and Bahasa Indonesia, plus the design is simply fresh yet eye catchy). It helps us to brainstorm and enhance our creativity. I found some similarities from how he elaborated things in his book with what I learn in campus, especially the part where he encouraged the reader to “Push the Limit”. Mr. Chris Mahon mentioned this phrase several times in class. One of the best quotes I get inspired from to realize it in my real life. Ah, can’t wait to finish reading this book. For my Indonesian friends, I suggest you to read the english version of this book. Don’t worry about the language, because it’s easy to understand. I bet you’ll learn a lot, hehe. KEEP PUSHING YOUR LIMIT!! 

Another important aspect in entrepreneurship that I want to highlight here is opportunity recognition. What makes entrepreneurs different is the ability to recognize the gap occurred in our surroundings, inspect the behaviour within many factors (economy, social, political,  technological advances, etc.). As problem solvers, entrepreneurs tend to see problems in their society as their opportunities by providing the solutions. That’s why entrepreneurs are seen to be the key of economic development. Besides creating job opportunities to a lot of people, entrepreneurs encourage the establishment of innovations used to ease our life.  

So, that’s some bits of my learning experience. It’s an absolute recommendation for you to learn from other resources like read a lot of inspiring books, watch several motivational talks from the internet, and/or come to entrepreneurship seminars/conference to enrich your knowledge. Mark Wright (The Apprentice winner), who is a dyslexic once said “If you wanna earn more, you’ve got to learn more. When people leave formal education, on average they read one book for the rest of their life. While the CEOs of the Fortune 500 companies on average read one book per week”. Despite of his learning difficulties, Mark does not stop pursuing his dreams and keep learning by listening to audio books in any chance that he can get. Here is a bonus for you all, a (half) documentation of his talk during Nottingham Entrepreneurs Conference.


Special credits to my lecturers; Mr. Chris Mahon, MBA, Dr. Chris Carter, Prof Simon Mosey, and Mr. Paul Kirkham

Saturday, October 22, 2016

Studi S2 (Part 2): Berburu Beasiswa LPDP (Seleksi Administrasi)


Menikmati musim gugur di Nottingham Castle


"Yaz, syarat pendaftaran beasiswa LPDP apa aja ya? Interview-nya susah ga sih? Aku pengen banget ikutan, tapi aku ga PD nih sama bahasa Inggrisku. Mesti test IELTS dulu kan ya ?"

Itulah pertanyaan yang kerap kali saya terima mengenai beasiswa LPDP. Walaupun LPDP sudah memberikan beasiswa selama 5 tahun, nampaknya banyak yang masih lazim. LPDP sendiri adalah singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang dinaungi oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. LPDP juga dikenal sebagai lembaga dengan managemen pengelolaan beasiswa terbaik di Indonesia. Sungguh saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari awardee LPDP. Sebelum melanjutkan membaca tulisan saya, ada baiknya teman-teman menonton official video dari LPDP berikut ini.


Mudah-mudahan video di atas bisa menjawab sedikit rasa penasaran teman-teman soal beasiswa LPDP. Kalau begitu, saya pamit dulu. Wassalam. Eh, hahaha  XD

Basically, seperti postingan sebelumnya, yang saya ceritakan di sini hanya berdasarkan pengalaman saya yang sangat mungkin berbeda dari awardee LPDP lainnya. Akan sangat membantu kalau teman-teman juga membaca dari referensi lain. Besides, ada kemungkinan terjadi perubahan dari segi persyaratan, proses seleksi, standar penilaian, dan lain-lain di masa mendatang. Lebih baik teman-teman secara berkala mengecek langsung ke website resmi LPDP untuk info lengkapnya.

Yaz, LPDP banget nih? Gak coba beasiswa lain ya?
Sebetulnya keinginan melanjutkan S2 waktu itu belum sangat kuat, karena saya ragu ingin melamar kerja, melanjutkan usaha, atau belajar lagi. Tapi saya kekeuh kalau S2 maunya yang gratisan hehe. Ada banyak sekali peluang beasiswa yang informasinya saya dapatkan dari teman dan internet. Tapi karena situasi tersebut, saya mencoba ikut seleksi beasiswa LPDP dulu. Dengan rencana, kalau tidak lulus seleksinya, baru saya akan coba AAS, Chevening, dan lain-lain. 

Apa saja sih persyaratan administratif pendaftaran beasiswa LPDP?
Kalau ada yang menanyakan ini biasanya langsung saya refer ke website LPDP, karena ada banyak sekali berkas yang harus disiapkan. Di sini saya hanya akan membahas persyaratan yang sering ditanyakan oleh teman-teman. Semoga bermanfaat.

  • Tes IELTS. Biasanya ini bagian yang paling sering dikeluhkan. Maklum, English bukan bahasa ibu kita. Saya dulu juga agak deg-degan, tapi alhamdulillah tidak sampai bikin ciut. Berbekal uang pas-pasan dan waktu yang sempit, saya memilih untuk belajar sendiri. Berhubung waktu itu saya magang Senin-Jumat (kadang Sabtu kerja juga), akhirnya saya nyambi belajar di dalam bus yang sedang menyusuri macet selepas pulang kerja atau saat jam makan siang. Beruntung sekali teman-teman yang masih punya waktu untuk menyiapkan diri, apalagi yang bisa bayar lebih untuk ambil kelas bimbingan. My point is, jangan jadikan tes IELTS sebagai beban. Semua tergantung usaha. (Maaf ya, saya rada jengkel sama yang suka mengeluh sebelum mencoba hehe). Kenapa saya ambil IELTS duluan? Karena biasanya IELTS jadi bagian penting seleksi beasiswa ataupun proses pendaftaran universitas di luar negeri. Kalau IELTS-nya sudah siap, tentu akan lebih mudah menyiapkan berkas lainnya. Oh iya, teman-teman juga harus memperhatikan syarat grade yang diberikan LPDP dan universitasnya ya. Karena bisa jadi berbeda.
  • Essay Writing. LPDP mewajibkan kita untuk menuliskan 2 essay  (500 sampai 700 kata) dengan tema: “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku”. This is a quite a big challenge untuk tiap peserta, karena jujur saja menurut saya ini adalah point crucial dalam proses seleksi. Essay adalah refleksi diri  yang akan dinilai oleh tim penguji. Akan jadi sangat panjang kalau saya bahas satu persatu apa saja yang mesti dituliskan di sini. Sebab setiap orang tentu punya standar dan gaya penulisan yang berbeda. Tapi di bawah ini saya tuliskan saran pembuatan essay yang baik berdasarkan pengalaman saya.
  1. Menurut saya hal pertama yang harus diperhatikan adalah mengetahui tujuan dari lembaga tersebut memberikan beasiswa. Kalau kita tidak mengerti tujuan pemberi beasiswa, bisa saja apa yang kita tulis akan melenceng dari apa yang diinginkan mereka. LPDP sendiri menginginkan awardee-nya untuk belajar dan berkontribusi untuk Indonesia di masa mendatang. Akan sangat baik jika di dalam essay dibubuhkan nilai yang menggambarkan kita sebagai seorang yang bercita-cita besar serta siap mengabdi pada negeri. Kita juga bisa menambahkan pengalaman dalam berkontribusi di lingkungan sosial. Lebih bagus lagi kalau pengalaman kontribusi ini linear dengan jurusan kuliah yang akan diambil supaya meyakinkan penguji bahwa kita sudah pernah turun ke lapangan dan berkeingingan belajar lebih jauh melalui jalur S2/S3. Bingung tidak maksudnya apa? Hehehe. Essay saya dulu menceritakan pengalaman saya berwirasusaha sosial dengan menyisihkan 10% dari harga penjualan untuk sosialisasi pendidikan ramah lingkungan. Saya juga menyelipkan bahwa menjadi awardee beasiswa LPDP dan belajar di University of Nottingham bisa membantu saya belajar lebih banyak tentang social entrepreneurship.
  2. Menceritakan latar belakang keluarga di dalam essay bisa membantu memberikan impression tertentu pada tim penguji. Beberapa bobot kepribadian yang disyaratkan LPDP adalah kemandirian, integritas, dan kegigihan. Kita bisa mencerminkan nilai-nilai tersebut dengan menjelaskan latar belakang keluarga yang membentuk kepribadian kita. Misalkan si A adalah seorang anak yatim yang tinggal di keluarga yang sangat sederhana. Hal ini membuatnya termotivasi untuk melakukan yang terbaik untuk ibu dan keluarganya. Sehingga dia terus membuktikannya dengan berprestasi di berbagai hal, seperti mewakili Indonesia dalam konferensi internasional di Singapura, menjadi pemimpin di organisasi X, atau memenangkan lomba debat tingkat nasional. Dengan memberikan contoh di atas, kita mungkin bisa mencuri hati tim penguji karena mereka melihat kita sebagai orang yang pantang menyerah dan suka mengasah kemampuan diri despite of having family issues.
  3. Banyak yang mengartikan "Sukses Terbesar dalam Hidup" dengan cara yang berbeda. Tema essay yang satu ini agak tricky, sebab mungkin kita akan membeberkan prestasi dan pengalaman hebat kita sebagai definisi kesuksesan. Kadang juga kita lupa essay ini adalah karya yang menggambarkan kepribadian kita. Dulu saya agak kesulitan memilih kata agar tidak terkesan sombong. Mungkin teman-teman bisa memilih kosa kata bahasa Inggris yang sopan, rendah hati, serta enak dimengerti oleh tim penguji. Sebagai tambahan, teman-teman bisa juga menceritakan tentang cara teman-teman mengatasi masa sulit dalam hidup yang menjadikan itu sebuah proses menuju kesuksesan terbesar.
  4. Setelah selesai menuliskan essay, ada baiknya teman-teman istirahat sebentar dan membaca ulang essay tersebut di lain waktu. Kadang kita tidak sadar ada bagian yang missing, typo, grammatical error, dan lain-lain. Biasanya kita baru akan tahu setelah membaca ulang essay tersebut. Di samping itu, ada baiknya kalau kita meminta tolong teman untuk membaca essay tersebut. Sebab terkadang mereka bisa melihat kesalahan yang tidak kasat mata oleh kita serta membantu mengkoreksikannya. 
  5. Melihat contoh essay teman yang sudah lulus beasiswa bisa jadi opsi bahan referensi, tapi jangan jadi plagiat ya guys. Apalagi sampai telak-telak copy paste kalimat-kalimatnya. Ada yang lebih parah, yaitu meminta teman membuatkan essay untuk kita. Dari sini saja sudah terlihat mental pengecutnya. Mana mau pihak LPDP memberikan beasiswa untuk seorang plagiat dan pemalas? Just my two cents, hehe.
  • Surat Rekomendasi. Tidak berbeda dengan beberapa berkas lainnya, LPDP menyediakan template Surat Rekomendasi serta point apa saja yang harus ada di dalamnya. Teman-teman bisa download langsung buku panduannya dari website. Biasanya kita meminta surat rekomendasi dari dosen sewaktu S1 dulu, tokoh masyarakat, atau atasan bagi yang sudah bekerja. Saya dulu meminta surat rekomendasi dari dosen yang sudah mengenal saya dengan baik dengan memberikannya template surat rekomendasi dari LPDP serta informasi seputaran jurusan S2 yang akan saya ambil. Karena jurusan S2 saya agak non linear dengan S1, maka saya juga memilih dosen yang dulu mengajarkan subjek entrepreneurship (untung dulu pernah belajar, hehe). Selain itu, karena tidak mau bolak-balik meminta tolong dengan mereka, saya meminta mereka untuk menuliskan 2-3 surat rekomendasi, yaitu surat rekomendasi untuk tes beasiswa LPDP dan surat rekomendasi untuk 2 kampus tujuan (dulu saya daftar di University of Nottingham dan University of Manchester). Selain dosen, saya juga meminta dibuatkan surat rekomendasi oleh  Kantor Dinas UMKM supaya bisa meyakinkan tim penguji kalau saya mendapatkan support dari pemerintah setempat. Oh iya, perlu diingat bahwa surat ini dibuat dalam bahasa Inggris supaya memudahkan pendaftaran di kampus tujuan maupun beasiswa LPDP
  • Curriculum Vitae (CV). Pada saat proses pendaftaran beasiswa LPDP online, kita akan disuruh mengisi formulir yang notabene adalah CV. Di sana ada kolom riwayat pendidikan, pekerjaan, pengalaman organisasi, prestasi, workshop, dan lain sebagainya. Tidak ada limitation berapa banyak yang kita tuliskan di sana. Tapi ada baiknya kita menyeleksi apa saja yang ingin kita tulis. Saya baru sadar the significance of this CV to the selection process until I came to the interview session. Semakin banyak hal yang kurang penting kita tuliskan di sana, bisa menjebak kita saat interview nanti. So, I think it will be much better if we can select the most important ones.
  • Letter of Acceptance (LoA). LPDP memang mencantumkan ini di bagian persayaratan administrasi. Tapi jangan kuatir kok guys kalau memang kita belum punya LoA dari kampus tujuan. Asalkan nanti ketika interview kita bisa menjelaskan alasan kenapa kita belum mendapatkan LoA. Saya dulu juga belum mendapatkan LoA saat masuk sesi interview. Tapi teman saya menyarankan untuk menyisipkan progress report dari LoA tersebut kepada tim penguji supaya mereka tau kita sudah kasih effort untuk kuliah S2. Waktu itu saya menunjukkan email korespondensi saya kepada pihak University of Nottingham yang menunjukkan respon positif akan menerima saya di kampus tersebut. Interviewer manggut-manggut, saya pun lega. Teman lain juga pernah berbagi kalau mereka menyelipkan email korespondensi mereka kepada calon dosen pembimbingnya. Maybe you can try to do the same thing :)

Demikianlah informasi yang tidak singkat dari saya soal pengalaman seleksi administrasi beasiswa LPDP. InsyaAllah nanti akan saya share pengalaman saat seleksi subtantif. Semoga setelah membaca tulisan ini teman-teman tidak menjadi lesu karena harus melengkapi banyaknya persyaratan. Percayalah bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Saya tidak akan bisa menikmati sendunya musim gugur di sini tanpa bekerja keras saat proses seleksi dulu. Selamat berjuang, teman-teman!

Terima kasih LPDP :)



Wednesday, October 5, 2016

Studi S2 (Part 1): Motivasi Kuliah di Luar Negeri

Sejak menerima kabar kelulusan beasiswa LPDP, saya menanamkan niat untuk sharing pengalaman saya ini di blog. Hal ini juga didorong oleh antusiasme teman-teman saya yang ingin tahu soal proses memilih kampus, negara tujuan, bahkan tips mendapatkan beasiswa. Sebetulnya dalam beberapa kesempatan talkshow di Bangka atau dalam obrolan santai bersama teman, saya sudah pernah menyampaikannya. Namun rasanya kurang cukup, karena mungkin ada teman-teman yang missed out beberapa point. Jadi harapan saya, tulisan ini bisa membantu.

Kalau berbagi informasi seputaran studi, rasanya ini adalah hal yang sangat subjektif. Sebab semuanya berdasarkan pengalaman, dan setiap orang punya pengalaman yang berbeda-beda. Maka dari itu saya sarankan teman-teman untuk membaca dari sumber lain, atau bertanya pada orang yang lebih berpengalaman sebagai tambahan referensi. Saya juga pernah memuat 2 tulisan pengantar sebagai gambaran umum buat teman-teman. Adapun tulisannya bisa dilihat di sini dan di sini. Tulisan kali ini saya khususkan pada hal-hal general yang banyak ditanyakan orang-orang, seperti alasan saya studi S2, kenapa saya memilih jurusan yang berbeda dengan jurusan S1, kenapa memilih Inggris, dan juga alasan saya belajar di University of Nottingham. Kalau ada kesempatan, sharing mengenai cara mendapatkan beasiswa akan saya posting di tulisan lainnya, ya.

Kenapa mau lanjut S2?
Honesty, as a non-academic person, saya sulit menemukan jawaban keren untuk pertanyaan ini. Frankly speaking, saya tidak punya rencana untuk kerja sebagai pegawai dan menjadikan S2 sebagai alasan untuk mempertinggi jenjang karir. Motivasi saya lebih kepada personal motivation. Saya ingin nantinya anak-anak saya bisa terinspirasi untuk mendapatkan higher education qualification, seperti halnya saya terinspirasi oleh almarhum bapak saya. Oh iya, saya juga punya alasan receh nih, saya ingin belajar sambil jalan-jalan (ini terbalik bukan sih? hehehe). I really love travelling, dan sepertinya akan sangat valuable jika saya "belajar" dari perjalanan travelling tersebut. Kalau alasan konkret untuk melanjutkan studi, saya ingin sekali belajar entrepreneurship supaya bisa jadi seorang pengusaha seperti ibu saya. Kalaupun nanti belum bisa jadi pengusaha, yaa mentok-mentok saya bisa cerita pengalaman saya kepada orang lain :)

Ada juga alasan religius yang menjadi pemicu semangat saya. Yaitu di dalam Al-Quran Surah Al-Mujadillah:11 yang artinya "Niscaya Allah SWT. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.". Siapa yang tidak mau derajat naik, hayooo? Hehehe. Kalau esensi hidup adalah berbagi dan saya sedang berkekurangan harta, mungkin bersedekah yang paling mudah dan mulia adalah dengan berbagi secuil ilmu yang saya punya ini.

Mengapa memilih MSc. in Entrepreneurship, Innovation, and Management dan bukan melanjutkan di bidang Real Estate?
Setelah mendapatkan gelar Bachelor in Estate Management, saya sadar bahwa saya menghabiskan waktu 5 tahun di Malaysia untuk mempelajari hal yang bukan menjadi passion saya. Walaupun tidak sedikit yang bilang bahwa real estate adalah ladang bisnis yang menjanjikan. Lalu, saya mencari celah kira-kira jurusan apakah yang relevan untuk men-channel semua passion saya tanpa mengabaikan latar belakang pendidikan S1. Tadinya saya ingin mengambil MBA, namun ternyata MBA di kampus-kampus ternama requires a lot more than what I think of. So, dari pada gagal, lebih baik saya cari opsi lain. Dan entrepreneurship lah opsi itu. Untungnya ada beberapa subjek S1 yang masih berkaitan dengan yang saya pelajari saat ini.

Pilihan ini juga ada relasinya dengan rencana pemerintah yang menginginkan peningkatan jumlah entrepreneur di Indonesia. Big opportunity, bukan? Dosen saya Mr. Chris Mahon bilang kalau lulusan MSc. in Entrepreneurship are 3 times more likely to start new business and earn 27% higher income, also owning 62% assets dari pada lulusan MBA. Entrepreneurship is now in the top five most demanded content according to a study of 476 prospective MBA students in 79 countries. Semoga ini adalah pilihan yang tepat.

Yaz, kok prefer ke Inggris dari pada belajar di Indonesia atau negara lainnya?
Hint: This is one of the most frequently asked questions di tes interview LPDP, mungkin karena hasil survey mengatakan bahwa awardee LPDP kebanyakan belajar di Inggris. Jawaban paling familiar untuk pertanyaan ini adalah karena bahasa pengantarnya adalah Bahasa Inggris, jadi tidak perlu mempersiapkan diri buat belajar bahasa lain (misalkan saya kuliah di Belanda, paling tidak saya harus mengerti bahasa sana walaupun bahasa pengantar kuliahnya adalah Bahasa Inggris). Ada yang menanyakan saya kenapa tidak meneruskan di Malaysia saja, kan bahasa pengantarnya juga Bahasa Inggris. Bahkan mungkin lebih enak mengakses makanan halal, serta tidak terlalu jauh kalau mau pulang ke Indonesia. Bagi saya keputusan ini ada kaitannya dengan prinsip investasi "High risk, high return", semakin tinggi resiko yang saya ambil dengan berkuliah di tempat baru, semakin tinggi pula return yang saya dapatkan.

Inggris merupakan tuan rumah universitas-universitas ranking teratas di dunia. Teman-teman bisa cek di sini untuk tahu perihal ini. Salah satu alasan lain saya memilih Inggris adalah kemudahan kita memilih studi yang sesuai dengan concern yang kita inginkan. Kalau di Indonesia, tidak banyak pilihan studi S2 di bidang entrepreneurship (yang berakreditasi) yang bisa kita pilih. Sedangkan di Inggris, jurusan ini bisa ditemukan di banyak universitas. Masing-masing dari mereka punya fokus tertentu, misalkan saja fokus tentang entrepreneurship di bidang teknologi, entrepreneurship dalam bisnis global, atau manajemen sebuah bisnis. Asik, kan? Nah, teman-teman bisa cek langsung website kampus tujuan dan membandingkan modul-modul yang mereka tawarkan.

Pertimbangan saya untuk melanjutkan kuliah pastinya didorong dengan pertimbangan jangka waktu belajar yang akan saya tempuh. Negara-negara tertentu seperti Australia menawarkan jangka waktu belajar lebih dari 1.5 tahun. Sedangkan di Inggris, kita bisa mendapatkan gelar S2 dalam waktu sesingkat 1 tahun. Namun kadang tergantung dengan jurusan dan metode perkuliahannya juga (by coursework or by research). Bagi saya kuliah satu tahun sudah lebih dari cukup.

Karena menaklukkan benua Eropa adalah salah satu bucket list travelling saya, maka saya mencari negara yang bisa menjembatani cita-cita tersebut. Dalam waktu 1 tahun ini saya berharap bisa mengatur waktu belajar dan waktu jalan-jalan dengan baik. Ada yang bilang kalau keliling dunia adalah trend terkeren masa kini supaya bisa foto-foto di landmark terkenal di dunia. I think the idea must be bigger than that. We should have a sincere purpose supaya perjalanan kita punya makna. It's not like we were born just to waste our time and having fun, right? Lho, ini kok jadi serius banget, jalan-jalan aja mesti pake filosofi hahaha.

University of Nottingham itu bagus, ya? Kenapa mau belajar di sana?
Mungkin Nottingham tidak setenar London, Manchester, dan Cambridge. Jika ada yang pernah dengar kisah Robin Hood, that folklore actually took place in Nottingham. Jadi kalau teman-teman main ke sini, banyak sekali logo atau brand usaha bertemakan Robin Hood. Speaking about my way to know about University of Nottingham, saya pertama kali diberikan informasi melalui education agency yang membantu saya dalam proses aplikasi kuliah. Mereka memberikan beberapa pilihan kampus di UK dengan bidang yang sama. Dan tentunya kampus-kampus ini harus masuk list kampus LPDP. Setelah saya intip website University of Nottingham, saya jatuh cinta dengan modul yang ditawarkan. Sadar akan pentingnya exposure mengenai basic knowledge of entrepreneurship dan social entrepreneurship, maka kampus ini adalah pilihan yang tepat. FYI, saya juga apply di kampus lain sebagai opsi tambahan.

Agak berbeda dengan kampus lain, di sini mahasiswanya diberi pilihan untuk mengambil disertasi atau creating a business plan sebagai tugas akhir. Saya yang amat practical ini tentunya menyukai hal yang buat saya bisa terjun langsung mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Sebab menurut pengalaman saya, menulis riset jauh lebih rumit dibandingkan dengan membuat business plan. Sebetulnya ada beberapa alasan lain yang saya utarakan saat mengajukan studi plan ke pihak LPDP untuk meyakinkan mereka bahwa pilihan kampus saya adalah pilihan yang tepat. Nanti akan saya bahas di postingan selanjutnya ya. Semoga teman-teman bisa bersabar.

---

Sebagai bahan renungan, tidak jarang orang berstigma bahwa kita tidak harus ke luar negeri untuk belajar. Bahkan saya pernah mendengar pendapat yang lebih menyedihkan dan cenderung discouraging, yakni bahwa saya dan teman-teman yang sedang menempuh studi di luar negeri ini menuntut ilmu hanya demi meninggikan pride kami. Padahal outcomes yang kami dapatkan jauh dari sekedar cibiran itu. Belajar di luar negeri telah mampu membuka pikiran saya dalam banyak hal termasuk membantu saya untuk menemukan diri saya sendiri. Investasi negara dan lembaga pemberi beasiswa yang tidak sedikit tentu dengan harapan bahwa scholar yang belajar di luar negeri bisa menjadi problem solver di tanah air. Tujuan saya memberikan awareness kepada teman-teman supaya bermimpi tinggi dan berprestasi hingga tingkat internasional bukan semata-mata untuk mengajak teman-teman "melihat" dunia dari sudut pandang berbeda saja. Namun juga untuk menyadarkan bahwa kesempatan yang ada sungguh luas dan jaraknya sangat dekat jika kita ingin mencapainya.

Saya bersama sahabat saya, Widya Handini di Edensor

Saya terkadang berkaca dengan kisah saya dan Widya, teman sebangku dan sekamar saya. Kami dipertemukan di SMA Negeri 1 Pemali, sebuah sekolah di pelosok pulau Bangka. Dalam sempitnya kamar asrama juga olokan orang tentang keunikan pribadi dan kekurangan kami, kami diam-diam menaruh mimpi tinggi. Paling tidak, kami ingin merubah derajat hidup keluarga kami. Dan Tuhan membalasnya dengan sangat indah. Saya tidak pernah menyangka bisa ditakdirkan untuk berkuliah bersamanya di Malaysia dan Inggris. Kesempatan ini secara drastis merubah pribadi kami dan juga anggapan orang lain mengenai kami. Tidak menutup kemungkinan hal yang lebih besar juga bisa terjadi di hidup teman-teman ketika berkesempatan kuliah di luar Indonesia. Semoga buah pikiran saya ini bisa memberi manfaat ya :')

I once asked my teacher why she really loves studying and keep pursuing her study. I am really inspired to know that she got double master and now she is pursuing her PhD in her early 30's. She said, "My mom told me that education has a power to change how people see us, how we see the world, and how the world see us."



P
S

Friday, September 30, 2016

My View on Ika Natassa's Books


Di tengah-tengah keharusan membaca segudang buku rekomendasi dari dosen, saya masih sulit move on dari segelintir buku Ika Natassa. Suatu accomplishment yang besar untuk seorang pemalas seperti saya bisa membaca 4 bukunya dalam jangka waktu setahun. Ada banyak point yang menggoda saya untuk berkontemplasi. Ah, paling sedap kalau berkontemplasi ditemani album Continuum-nya John Mayer yang syahdu membiru itu. Buku-buku Mbak Ika sangat membantu saya menjalankan New Year Resolution (harus selesai baca 20 buku dalam setahun, lulus setengahnya saja sudah bersyukur) dan menjawab sindiran Mbak Najwa Shihab tentang betapa menyedihkannya reading habit rate di Indonesia (saya malu jadi penyumbang peringkat rendah Indonesia dalam hal ini).

Saya tidak pandai memberikan review tentang buku yang saya baca, what I am trying to highlight here are my personal and general views about the story line from each book. Sejauh ini saya sudah membaca Critical Eleven, Architecture of Love, A Very Yuppy Wedding, dan Divortiare (on going reading: Twivortiare). Semua metropop karya Mbak Ika yang sudah saya baca had successfully playing with my mood rhythm. Beliau sangat cerdas mengulas tiap problema serta menaikrendahkan perasaan orang yang membacanya. Saya paling geram kalau menonton film dan membaca buku yang buat saya mikir panjang. Eventually, di situlah kualitasnya. Artinya yang di belakang layar dari masterpieces tersebut adalah orang-orang cerdas!

Semua yang ditawarkan dalam buku Mbak Ika memang soal permasalahan relationship. Tapi kekhasan yang paling kental saya observe adalah caranya melakonkan pribadi masing-masing peran. Seperti egoisnya perempuan yang minta laki-laki ambil sikap, dan how innocent a guy can be alias nggak peka. Mbak Ika sangat tahu ini masalah pokok di antara makhluk Mars dan Venus, tapi dia selalu apik memposisikan karakter tokohnya dalam cerita yang berbeda.

Dari hangatnya cerita cinta Andrea dan Adjie yang harus kucing-kucingan pacaran karena takut ketahuan boss mereka, sering juga saya mencak-mencak karena kesal betapa immature-nya Andrea bersikap. Tapi bukannya itu realita dari kebanyakan potret wanita yang ingin di-treat lelakinya dengan penuh perhatian? Tidak jauh beda dengan kisahnya Ale dan Anya yang rumah tangganya getir karena kalimat menyakitkan Ale ke Anya. Padahal, menarik banget awal mula mereka bisa bertemu di pesawat. Belum lagi cerita Alexandra dan Beno yang dingin. Sebenci-bencinya Alex terhadap mantan suaminya, move on itu terlalu sulit. Karena bukan kehadiran orang yang kita cintai yang paling dirindukan, tapi momen-momen sederhana yang tidak bisa hadir lagi. Lain lagi dengan cerita Raia dan River yang menggambarkan  sisi fragile tiap orang yang susah disembuhkan jikalau tidak berkeinginan untuk memaafkan kenyataan dan berusaha menyembuhkan satu sama lain.

Saya sering teracuni saat membaca pembelajaran yang dihidangkan di buku-buku tersebut. Yang paling saya suka adalah soal Counterfactual Thinking di novel Architecture of Love. We tend to create possible alternatives for what already happened in our lives. It's like endless hoping. We love to use the word "what if" for the things we kinda regret in the past. But it's useless. We couldn't help it, could we? The past was the past.

Ada juga yang saya pelajari dari A Very Yuppy Wedding: hiding is ridiculously complicated, and trust is built with a strong communication and transparency between the two. Konflik di antara Andrea dan Adjie mungkin bisa diminimalisir jika ada tendency untuk saling memberi dan memaafkan.

Mbak Ika sering mem-pinpoint -kan bahwa komunikasi adalah hal sakral dalam menjalin sebuah hubungan. Karena dari situlah terjalin rasa percaya. Besides, meminta diperlakukan sempurna saat tahu bahwa tidak ada yang sempurna adalah salah telak. Misalkan saja, meminta lelaki untuk peka itu bagaikan air susu dibalas dengan air tuba. Eh salah pribahasa wkwkw. Maksud saya, bagaikan punguk merindukan bulan, alias mustahil terjadi. Makanya perempuan harus mengerti dan berusaha memg-comprehend-kan hal itu. Bukannya kita diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain? (Eaaak).

Dari novel Divortiare, yang saya petik adalah bahwa perpisahan tidak selalu bisa mengobati suatu masalah. Bahkan bisa timbul masalah baru yang sulit kita deal with, yaitu move on. Kita kadang terjebak dalam situasi yang memicu perpisahan. Padahal cinta jauh lebih besar daripada kesiapan kita untuk hilang dari bagian hidup satu sama lain.

Dari segelintir buku kurang ajar ini (please excuse my French wkwkw), saya berkonklusi bahwa cinta adalah sebuah kata kerja dan membutuhkan aksi nyata agar tetap langgeng. Relationship is the matter of giving your unlimited efforts to make the person you love happy. If you love the right person, you will get it in return. Please jangan tanya kapan saya bisa mengimplementasikan ini semua, karena yang penting saya sudah banyak bawa bekal dari buku-buku ini. When the right time finally comes I'll make sure that man will be the luckiest, hehe. Terima kasih Mbak Ika Natassa atas pesan-pesan berharganya, will definitely grab the rest of your books once I get back home.
Love presents along with vulnerability as its side effect. Yups, sometimes it doesn't make any sense at all. But I hardly take the love story which doesn't matter with the distance and only show meaningless effort from the two to be there for each other. Because for me, loving is a strong willingness to share mutual understanding by giving unlimited support.