Sunday, March 19, 2017

Handmade Nottingham Market and My Personal Views on Art and Creativity

My casual weekend outing for today goes to Handmade Nottingham Market in The Malt Cross. Actually I had been to several similar events before in Nottingham. But seems like there are always something new. Again, I feel endlessly lucky to live in a place where art is widely appreciated.


 Stalls in a cafe? Not a bad idea at all

Unlike the usual handmade products exhibition that I had attended before, this event is held in one of the most prestigious cafe in Nottingham. Whereas normally people use common spaces like convention centre, park, mall or gallery to have it.

Numerous local entrepreneurs participate in this handmade market indicates that the creativity is well supported by the government and local community. I personally adore how people appreciate handmade products here. It feels like there are always special spaces for creative persons to express their taste of art.


  • Speaking of creativity, it usually roots from the early stage of human life - childhood. People from places where art is seen as something taboo would think that nobody is going to make a living out of it. As the result, art passionate children are forced to limit their imagination just after the parents acknowledge their talent. It's very sad to know that many creative persons waste their talent to grow up working in the areas that don't allow them to explore their true passions

    Many need to know that art/creativity is not always in a form of painting or small acoustic gig. In fact, the application of art is just beyond that. Professionals like architects, fashion designers, composers, animators, interior designers, actors are the proofs that artists transform to different kind of professions


    • In our daily life, it is very clearly shown that we can never live separately from creativity. Even global companies like Google and Apple demand highly creative employees. Creativity leads to better problem solving, creation of brilliant innovation, and good state of mental health. So, isn't creativity a big deal?

      It can take my whole life to talk about this topic (well, not entirely 😅). Mostly because rejection has been part of my personal experience. I am still trying my best to channeling my own passion into something meaningful not just for me but also the people around me. To end this "another random thoughts" session, I can probably say that underestimating an art enthusiastic/creative individual is utterly shameful. Especially if we choose to be ignorant or tightly close our eyes from seeing the value of art and creativity.


    •  Outside of The Malt Cross

       


Thursday, February 9, 2017

Tolerasi? Bagaimanakah Cara Kita Menyikapinya?

Sudah lama sekali pembahasan soal tolerasi ini jadi buah pikiran saya. Sudah lama juga saya sangat ingin membuka diskusi terbuka dengan teman-teman saya supaya saya jadi lebih paham dengan situasi yang sedang terjadi. Tapi rasa takut untuk "berbicara" tampaknya lebih dominan, menimbang banyak sekali orang di luar sana yang sensitif dan cenderung menutup pemikiran untuk menerima pendapat orang lain. Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin menjelaskan bahwa saya bukanlah seorang ahli dalam bidang agama atau pun sosial-politik. Saya cuma seorang manusia biasa yang haus akan ilmu. Kebetulan saya diberikan kesempatan untuk belajar berbagai hal dari tempat satu ke tempat yang lain, berkenalan dan berteman dengan orang dari latar belakang yang beragam, dan pernah merasakan menjadi kaum minoritas dan mayoritas.

Sekian lama menunda untuk bicara, saya akhirnya memberanikan diri juga. Mungkin ini akan menuai kritikan dari teman-teman pembaca. Tapi ya sudahlah, bukankah kita diberikan kebebasan untuk beropini? Walau kadang kesempatan beropini menjadi akar sebuah perpecahan. Menurut saya, tidak ada yang salah selama kita saling menjaga rasa nyaman dengan siapa kita beropini (misalkan saja dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung). Niat saya menuliskan ini hanya ingin berbagi pendapat dari pengalaman dan pemahaman saya sejauh ini dengan segala keterbatasan pengetahuan saya.

Saya sendiri adalah seorang yang lahir dari keluarga multi-etnis. Almarhum bapak saya berdarah campuran China-Jawa, sedangkan ibu saya berdarah campuran Bangka-Sunda. Sejak kecil saya dikenalkan beberapa budaya dan sering pindah dari satu daerah ke daerah lain. Lahir dan (akhirnya) menetap di Pulau Bangka membuat saya nyaman dengan dengan multikulturisme yang berkembang di sini. Seingat saya, 30% dari jumlah penduduknya adalah etnis China yang sangat rukun dengan etnis melayu dan etnis lainnya. Bapak kerap mengajak saya untuk bersilaturrahmi dengan keluarga kami yang beretnis China, bahkan dulu dia menginginkan saya bisa berbahasa Mandarin. Teman-teman terdekat pun banyak yang berasal dari entnis tersebut. Kami bahkan melakukan kegiatan bakti sosial bersama-sama pada saat bulan Ramadhan. Sangat indah saya rasa jika hubungan baik seperti ini terjaga.

Saya bangga berasal dari Indonesia yang warna-warni suku budayanya, agama, bahasa, dan lain-lain. Rasa bangga ini selalu saya bawa ketika saya mengobrol dengan teman dari negara yang berbeda. Banyak yang tidak percaya bahwa Indonesia adalah negara "Besar" yang memiliki lebih dari 17,000 pulau dan ratusan bahasa daerah. Semangat Bhineka Tunggal Ika selalu jadi pengokoh persatuan kita. Namun akhir-akhir ini saya merasa sedih dengan isu tolerasi yang berkembang. Maafkan jika saya tidak banyak paham soal ini dikarenakan sedang berada jauh dari nusantara dan hanya mengamati lewat berita dan obrolan dari kerabat dekat. Yang sangat nyata terjadi sekarang adalah masalah perbedaan memicu keretakan persatuan yang selama ini kita junjung.

Bersama teman-teman dari ragam latar belakang di Indonesia saat program pertukaran pemuda di China

Sharing berita dan argumen yang menebarkan hatred atau kebencian pun berseliweran di media sosial. Ini tentunya menambah kekhawatiran, apalagi banyak yang menyebarkan berita palsu atau Hoax. Salahnya banyak yang membaca dan menyebarkan informasi tanpa menyaring mana yang benar dan salah. Paling nampak terjadi sekarang adalah men-judge sesuatu dengan sesuka hati tanpa melihat dari berbagai sisi. Isu tolerasi naik ke permukaan dikarenakan berhubungan dengan orang yang berpengaruh besar di negeri ini, seorang pemimpin. Hingga menuai aksi besar-besaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Saya sebetulnya sangat malas membahas hal sensitif seperti ini di sosial media, namun kemarin karena lumayan "gerah" saya pun angkat suara dengan mengajak teman-teman semua untuk berpikir terbuka dan saling memaafkan di status media sosial saya tersebut(perlu diketahui, perlu waktu setengah jam untuk berpikir apa yang harus saya tuliskan waktu itu). Namun yang ada malah saya diduga tidak membela agama yang saya yakini. Bahkan ada yang menyinggung keberadaan saya di luar negeri membuat saya kurang cinta dengan negara sendiri. Hmm, saya jadi sedih. Mungkin teman yang berpendapat seperti itu salah mencerna maksud saya, membayangkan nada bicara saya yang seolah-olah sedang meremehkan aksi yang sedang terjadi. Sejujurnya, saya sangat mendukung aksi yang mengatasnamakan kebaikan. Asalkan niat yang baik tersebut dilaksanakan dengan sebaik mungkin tanpa menuai kontroversi lain dan tidak jadi masalah yang tidak berkesudahan. Saya bersyukur masalah ini naik ke permukaan karena menunjukkan bahwa masih banyak yang peduli dan membela agama dan kepercayaannya. Namun, alangkah lebih baik jikalau kita saling memaafkan. Bukankah kita cuma manusia (bukan Tuhan) yang tidak berhak menghakimi orang lain? Apakah kita sudah merasa jadi pribadi yang lebih baik dari yang tertuduh? Pernahkah kita berpikir bagaimana jika kita menjadi kaum minoritas yang dilecehkan harga dirinya di muka umum?

Isu toleransi juga sedang memanas di negara-negara lain, Amerika Serikat misalnya. Cuma sepertinya situasinya agak terbalik. Kaum minoritas menyuarakan kenginan mereka agar diperlakukan adil oleh pemimpin mereka. Masyarakat Amerika menolak presidennya untuk menetapkan aturan baru yang menimbulkan kerugian massive (karena berhubungan dengan hajat hidup orang banyak).

Saya ingin berbagi pengalaman menjadi kaum minoritas di Inggris. Awal mula datang ke sini saya sangat pemalu dan agak waspada, takut sekali diperlakukan semena-mena seperti yang ada di media-media. Terutama karena saya memakai identitas agama saya kemana-mana: jilbab. Saya takut tampil di muka umum karena saya pikir orang akan memandang sebelah mata karena jilbab yang saya kenakan. Apalagi identitas oriental yang tidak bisa saya tutupi dari warna kulit dan mata saya membuat saya berpikir bahwa orang akan meremehkan saya sebagai seorang pendatang. Ternyata saya SALAH BESAR. Selain itu, self-esteem issue yang saya alami bukan karena judgment (yang saya khawatirkan akan keluar) dari orang lokal ataupun kaum mayoritas. Itu semua hanya ada di kepala saya. Saya belajar membuka pikiran dan berani berkenalan dengan orang yang berbeda jauh dari saya. Kadang saya mengetes apakah benar kaum mayoritas di sini memandang tolerasi dengan cara yang berbeda? Sebagai umat muslim di negara mayoritas non-muslim, jadi tantangan sendiri untuk istiqamah beribadah. Kalau di Indonesia, pada saatnya shalat dan tidak berada di rumah biasanya sangat mudah kita temui masjid atau tempat lain untuk beribadah. Tapi di sini sangat berbeda. Saat berwisata ke Manchester, saya sempat bingung ingin shalat di mana. Akhirnya saya beride untuk memakai ruang ganti (fitting room) di sebuah butik di dalam Mall. Namun saya harus mengambil baju dan berpura-pura ingin mencobanya. Karena saat itu saya tidak ingin berpura-pura sebagai pembeli, akhirnya saya jujur dengan penjaga butik tersebut bahwa saya ingin memakai fitting room mereka untuk shalat. Tanpa berpikir panjang, penjaga tersebut mempersilahkan saya untuk shalat dan mengecek ruang ganti tersebut agar saya nyaman beribadah. Di kesempatan lain, saya pernah mampir ke Tea Studio milik seorang sahabat yang berasal dari China yang beragama Budha. Saat memasuki waktu Dzuhur, saya meminta izin untuk beribadah di sana. Dengan penuh rendah hati dia mengizinkan dan berkata."Sure, I will make sure not making any noise when you are praying". Hingga sekarang dia terbiasa dengan hal tersebut tiap kali saya berkunjung. Toleransi yang sangat indah bukan?


Keseruan saat bermain games di kampus bersama teman sekelas (University of Nottingham, 2016)

Coba tebak, dari mana saja teman-teman saya ini berasal? Berbeda kepercayaan, suku, budaya bukan jadi halangan kami untuk bersahabat. Saya sangat bersyukur bisa mengenal mereka semua (University of Malaya, 2012)

Sejujurnya saya pun pernah menjadi orang yang sangat subjektif dalam menilai cara berpandang orang lain yang bebeda dari saya, hingga akhirnya menimbulkan rasa tidak nyaman dan pertengkaran. Saya pernah harus menerima kenyataan bahwa teman dekat saya seorang biseksual, dan di kasus lain saya terkejut melihat teman yang membuka jilbabnya. Jadi dilema besar bagi saya, apakah saya harus memutuskan tali silaturrahmi dengannya hanya karena persoalan itu? Haruskah saya memaksakan mereka untuk kembali  ke jalan yang benar tanpa mendengarkan kesulitan yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan mereka? Mungkin saja mereka berada dalam kondisi dan trauma yang tidak semua orang bisa pahami. Pernah juga saya marah besar dengan seorang teman kristiani yang memandang islam dari sisi berbeda, padahal dia cuma ingin bercerita tentang apa yang dia pahami. Walau pada akhirnya saya berpikir bahwa dia tidak salah mengutarakan apa yang dianggapnya benar, dan saya salah telah berperilaku semena-mena men-judge bahwa yang dia pikirkan adalah salah. Saya seharusnya lebih mendalami ilmu agama dan berperilaku baik saat menjelaskan apa yang saya percaya kepada orang lain (karena saya tidak mau karena sikap buruk saya dalam menjelaskan soal islam membuat orang lain berpikir bahwa islam adalah agama yang menebarkan kebencian). Sebagai kaum minoritas, saya juga sering dikejutkan dengan hal-hal yang di luar dari budaya dan kepercayaan yang saya anut. Misalkan saat saya dengan tidak sengaja datang ke kelas melukis yang modelnya tidak berbusana, atau datang ke suatu acara yang menyajikan makanan dan minuman non-halal. Lalu apakah saya harus protes? Saya membayangkan jika saya terus menjadi orang yang tidak bisa menerima perbedaan ini, maka saya tidak akan "berkembang", bahkan bisa jadi saya dikucilkan dari kehidupan sosial.

Kita hidup di zaman yang mana kita tidak bisa lepas dari peran satu sama lain, apapun itu latar belakangnya. Saya tidak menyalahkan mayoritas keinginan umat islam yang ingin dipimpin oleh pemimpin muslim. Tapi ada kalanya saya berpikir jikalau dalam keadaan tertentu kita tidak bisa memilih untuk "selalu" dipimpin oleh seorang muslim, apakah kita harus "menyerah"? Bagaimana nasib TKI di negara mayoritas non-muslim yang menopang hidupnya dengan bekerja di bawah kepemimpinan seorang atheis atau orang yang beragama lain? Sedangkan sangat sulit untuk mereka mencari pekerjaan di negara sendiri. Atau seperti saya, seorang mahasiswa yang belajar dari orang nasrani. Apakah saya harus memaksakan diri mencari dosen yang hanya muslim? Di kasus yang lebih serius soal tolerasi, apakah kita harus menghentikan hubungan baik dengan orang lain hanya karena kita tahu bahwa mereka berbeda dengan kita? Saya ambil contoh ketika Presiden Donald Trump memutuskan untuk membatasi jumlah imigran yang masuk ke AS. Padahal tanpa disadari yang selama ini banyak membantu perekonomian AS adalah imigran dari luar negeri, terlepas dari latar belakang mereka sebagai buruh ataupun ekspatriat.

Di banyak kesempatan saya mencoba berobservasi tentang cara orang asing memahami makna tolerasi. Sejauh ini yang dapat saya simpulkan, walaupun berbeda pendapat dan latar belakang kita bisa hidup dengan nyaman dan berdampingan satu sama lain. Berbeda pendapat tidaklah salah. Namun perlu diingat bahwa tidak selamanya apa yang kita pikirkan selalu benar di mata orang lain. Berperilaku baik saat mengutarakan pendapat tentu dapat mempermudah orang lain mengerti apa yang sebetulnya kita maksudkan. Orang akan lebih respect jika kita menggunakan bahasa yang santun dan tidak provokatif. Kita juga harus pandai membaca situasi serta meneliti secara hati-hati sumber informasi yang kita dapatkan. Saat beropini, memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang yang kita pahami tentu sangat signifikan perannya. Tetapi kita juga harus paham, bahwa kita harus mau mendengarkan apa yang orang lain pahami tanpa memaksakan orang tersebut untuk setuju dengan apa yang kita percaya. Dalam suatu situasi, kadang kita juga harus menempatkan diri kita dalam posisi yang orang lain sedang alami. Bayangkan jika masalah yang dia alami itu terjadi dalam hidup kita, apakah kita bisa melewatinya dengan mudah?

Pembahasan kali ini berat juga ya? Hehehe, semoga teman-teman pembaca paham maksud yang ingin saya utarakan. Tidak pernah sedikitpun ada niat saya untuk memecahbelahkan persatuan yang ada. Sekali lagi, saya hanyalah manusia fakir ilmu yang ingin terus belajar. Saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk cerdas dalam mengutarakan pendapat dan melihat isu tolerasi dari sudut berbeda. Saya juga sangat ingin mendengarkan apa yang teman-teman pikirkan, tidak menutup kemungkinan saya telah salah. Artinya saya juga harus terus berintrospeksi diri. Lastly, saya ingin berpesan (juga untuk diri saya sendiri) "Stay humble and be kind to others" :)



Sunday, February 5, 2017

Studi S2 (Part 3): Berburu Beasiswa LPDP (Seleksi Subtantif-Tes Wawancara)

Setelah beberapa waktu lalu rajin menulis soal pengalaman kuliah di luar negeri, alhamdulillah banyak respon positif yang saya terima. Tentu jadi kebahagiaan tersendiri bisa berkontribusi dalam kesuksesan orang lain. Saya jadi merasa segan dengan yang menanti-nanti tulisan terbaru saya, apalagi kemarin-kemarin sempat janji untuk rajin menulis hehe. So, here I am! Untuk tulisan kali ini, saya spesifikasikan soal pengalaman seleksi subtantif LPDP, terutama soal tes wawancara.

Tidak terasa sudah hampir setahun saya menerima kabar kelulusan beasiswa. Momen yang mengharukan bagi siapa saja yang menerima kabar gembira seperti ini. Semoga bagi yang sedang menanti, segera mendapatkan kabar gembira juga. Amin. Setelah diumumkan lulus tes administrasi (ceritanya bisa dibaca di sini), saya langsung menyusun strategi supaya bisa tampil prima saat tes subtantif. LPDP menyediakan beberapa lokasi tes yang bisa kita pilih. Saya sendiri memilih Jakarta sebagai lokasi tes karena mudah dijangkau dari Bangka. LPDP akan mengirimkan undangan seleksi bersama dengan jadwal dan lokasi tes. Lalu, bagaimana tipikal tes wawancara LPDP dan apa saja yang harus dipersiapkan? Berikut penjelasannya

Tes Wawancara
Tes yang satu ini biasanya yang paling bikin gundah gulana. Rasanya agak sulit untuk memberikan tips khusus dalam meleawati tes wawancara, karena sifatnya yang sangat personal. Tiap peserta tidak mendapatkan pertanyaan yang sama, bahkan interviewer-nya pun berbeda-beda. Sepengamatan saya, LPDP membagi beberapa meja wawancara sesuai dengan bidang perkuliahan yang akan diambil peserta. Interviewer terdiri atas 3 orang dengan latar belakang yang berbeda. Salah satu dari interviewer tersebut adalah psikolog, sedangkan yang lainnya adalah profesor atau dosen yang sudah lama berkecimpung di bidang masing-masing. Saya pada awalnya tidak menyadari yang mana psikolog dan akademisi. Tapi lama kelamaan saya tau dari pola pertanyaan mereka. Tugas mereka adalah mengorek sebanyak-banyaknya informasi tentang kepribadian kita, pendidikan, pengalaman, motivasi kuliah, dan hal lain yang berhubungan dengan beasiswa dan  latar belakang kita.

Durasi wawancara tiap peserta juga sangat bervariasi. Sesi wawancara saya cukup singkat (sekitar 15 menit) jika dibandingkan dengan peserta lain yang bisa sampai setengah jam ataupun lebih. Setelah keluar dari ruang wawancara, saya merasa aneh karena tidak selama yang lain, saya kuatir pewawancara tidak mengenal saya sepenuhnya hehe. Sebetulnya, lamanya wawancara somehow ditentukan oleh kita sendiri. Sejauh mana kita membatasi dan memberikan informasi kepada interviewer. Ada yang memberikan jawaban panjang lebar untuk pertanyaan yang sangat singkat, hingga membuat interviewer gesit menanyakan hal-hal di luar dugaan kita. Ada juga yang memberikan jawaban terlalu singkat sehingga kita tidak bisa memuaskan ekspektasi mereka. Very tricky right?

Ekspresi peserta setelah wawancara juga berbeda-beda. Ada yang tersenyum lebar karena merasa lega telah melakukan yang terbaik, ada juga yang menangis karena "terjebak perangkap" si penanya. Pihak LPDP tentunya ingin mengetahui seluk beluk peserta dari berbagai aspek termasuk psikologis. Tidak mungkin kita diterima kuliah ke luar negeri jika secara mental kita masih lemah, mudah terpengaruh dengan hal buruk, atau bahkan mengancam kerugian dari pihak LPDP. Oleh karena itu saat wawancara, kita dites betul-betul melalui pertanyaan-pertanyaan yang tanpa disadari membuat kita down. Hal sensitif seperti family issue dan kegagalan di masa lalu yang biasanya diangkat oleh interviewer. Tapi hal ini bisa disiasati lho. Menurut saya, kita harus membatasi interviewer menggali sisi sensitif kita dengan menceritakan hal-hal yang seperlunya saja, yang penting tetap jujur dan humble. Nggak perlu cengeng ya :D

Tidak hanya dari sisi psikologis yang diuji, interviewer biasanya membaca semua informasi yang telah kita kumpulkan saat seleksi administrasi. Oleh karena itu sangat penting untuk membaca ulang secara detail, apa saja yang telah kita tuliskan di sana. Persiapkan kemungkinan-kemungkinan pertanyaan yang akan ditanyakan interviewer seperti:
  1. Alasan kuliah
  2. Alasan ikut tes beasiswa LPDP
  3. Pilihan kampus dan jurusan, relevansinya dengan latar belakang S1
  4. Kalau mau lanjut kuliah di luar negeri, kenapa harus di negara tersebut
  5. Status Letter of Acceptance/LoA (sudah dapat LoA unconditional atau belum, kalau belum apa alasannya)
  6. Modul dan research apa yang akan diambil (dulu saya hapalkan satu-satu pilihan studi yang saya tulis di Study Plan)
  7. Apa saja yang sudah dipersiapkan untuk kampus tujuan (sudah korespondensi dengan calon dosen pembimbing atau belum)
  8. Kegiatan ekstrakulikuler apa saja yang akan dilakukan di luar kesibukan kuliah
  9. Ilmu apa yang mau dibawa pulang dan diaplikasikan di Indonesia
  10. Rencana pasca kuliah 
  11. Kontribusi apa saja yang sudah dilakukan yang berkaitan dengan bidang yang diambil
  12. Kesulitan apa yang kira-kira akan dihadapi saat menempuh studi, bagaimana cara mengatasinya
Di samping pertanyaan umum seperti di atas, kadang ada pertanyaan sampingan yang signifikan dan kadang juga ada yang agak nyeleneh, misalnya:
  1. IP kamu cuma segini, yakin bisa lulus?
  2. Kamu studi terus, kapan nikanya?
  3. Yakin akan kembali ke Indonesia setelah lulus? Kalau nanti nikah sama bule dan diminta stay di negara mereka gimana?
  4. Jurusan itu di Indonesia juga ada lho, kenapa harus kuliah di luar negeri?
  5. Sudah lama bekerja di perusahaan asing pasti gajinya gede ya, ga takut harus berhenti kerja hanya untuk kuliah lagi?
  6. (Bagi yang sudah berkeluarga) Nanti anak dan istri akan diajak juga?
  7. Apa rencanamu 10 tahun ke depan?
Jangan kuatir, yang saya tuliskan di atas bukan template pertanyaan yang selalu ditanyakan interviewer. Itu hanya berdasarkan pengalaman saya dan teman-teman saya yang menempuh proses seleksi wawancara. Bisa jadi teman-teman mendapatkan pertanyaan lain.  Beberapa dari interviewer bahkan sangat akrab dengan kampus dan negara tujuan kuliah kita, untuk mewaspadainya kita harus melakukan comprehensive research. Selain gesit mencari informasi, ada baiknya juga kita membawa bukti-bukti tertentu yang bisa meyakinkan mereka. Bisa berupa previous research and publication, print-screen email dengan calon dosen di universitas tujuan, informasi soal perkembangan LoA, dan lain-lain. Tujuannya adalah agar interviewer tahu that we are very determined to further our study.

In my case, saya membawa portfolio pekerjaan saya. Isinya dokumentasi bisnis, business profile, dan kegiatan sosial yang saya lakukan sebagai bentuk CSR bisnis yang saya geluti. Saya bahkan rela membawa langsung sample produk dan menceritakan fungsinya kepada lingkungan sosial. Saya juga menjelaskan kenapa belajar di UoN akan menambah ilmu saya di masa mendatang. Banyak yang juga menginginkan kuliah di jurusan wirausaha seperti saya namun belum pernah bergelut dalam bidang itu sehingga sulit bagi mereka untuk memperlihatkan bukti-bukti tersebut. Mungkin bisa disiasati dengan membuat simple business plan dan background research soal business tersebut (apakah feasible untuk diterapkan setelah lulus kuliah).

Hal yang paling ditakuti lainnya adalah soal bahasa yang digunakan saat wawancara. Saya tidak bisa memastikan apakah wawancara akan di-deliver dalam bahasa Indonesia atau English. Karena saya sendiri 100% ditanyakan menggunakan bahasa Indonesia. Walau saya juga menyisipkan berbahasa Inggris di tengah-tengah wawancara agar interviewer tahu kemampuan bahasa saya. Di kasus lain bahkan ada peserta yang ditanyakan menggunakan English dari awal hingga akhir wawancara, ada juga yang cuma sebagian. Interviewer biasanya akan mengecek hasil TOEFL atau IELTS yang kita sisipkan. Jika hasilnya kurang memuaskan, itu akan jadi bahan pertanyaan mereka. Then we should answer it smartly :)

Tes wawancara ini sangat berpengaruh dalam keseluruhan tes subtantif karena porsi penilaiannya yang tinggi dibandingkan dengan On The Spot Essay Writing dan Leaderless Group Discussion. Tapi jangan kuatir, selagi kita mempersiapkan dengan sebaik mungkin pasti akan dipermudah. Jangan lupa menjaga kesehatan sebelum "bertanding". Berpikiran tenang juga sangat membantu kita menjawab pertanyaan sang penanya. Be ready for any worst circumstances without too much worrying of how we are going to pass it. Lastly, jangan lupa untuk tetap rendah hati. Sebanyak apapun prestasi dan pengalaman yang kita punya, sehebat apapun rencana yang kita buat akan sia-sia kalau kita menunjukkan kesombongan di depan interviewer. Kita datang ke proses seleksi ini untuk "memohon" pihak LPDP membantu merealisasikan mimpi kita, so yeah better be humble. Jangan lupa berdoa juga ya :)

I don't have any photos related to the interview session. Instead, here is a current picture of me in Wollaton Hall and Deer Park, Nottingham. Musim dingin di sini sangat gloomy, matahari jarang tampak. Tapi kemarin langit sangat cerah, jadi saya keluar rumah untuk menikmati pemandangan di sana. Hope you enjoy the rest of my pictures below :)