Friday, September 30, 2016

My View on Ika Natassa's Books


Di tengah-tengah keharusan membaca segudang buku rekomendasi dari dosen, saya masih sulit move on dari segelintir buku Ika Natassa. Suatu accomplishment yang besar untuk seorang pemalas seperti saya bisa membaca 4 bukunya dalam jangka waktu setahun. Ada banyak point yang menggoda saya untuk berkontemplasi. Ah, paling sedap kalau berkontemplasi ditemani album Continuum-nya John Mayer yang syahdu membiru itu. Buku-buku Mbak Ika sangat membantu saya menjalankan New Year Resolution (harus selesai baca 20 buku dalam setahun, lulus setengahnya saja sudah bersyukur) dan menjawab sindiran Mbak Najwa Shihab tentang betapa menyedihkannya reading habit rate di Indonesia (saya malu jadi penyumbang peringkat rendah Indonesia dalam hal ini).

Saya tidak pandai memberikan review tentang buku yang saya baca, what I am trying to highlight here are my personal and general views about the story line from each book. Sejauh ini saya sudah membaca Critical Eleven, Architecture of Love, A Very Yuppy Wedding, dan Divortiare (on going reading: Twivortiare). Semua metropop karya Mbak Ika yang sudah saya baca had successfully playing with my mood rhythm. Beliau sangat cerdas mengulas tiap problema serta menaikrendahkan perasaan orang yang membacanya. Saya paling geram kalau menonton film dan membaca buku yang buat saya mikir panjang. Eventually, di situlah kualitasnya. Artinya yang di belakang layar dari masterpieces tersebut adalah orang-orang cerdas!

Semua yang ditawarkan dalam buku Mbak Ika memang soal permasalahan relationship. Tapi kekhasan yang paling kental saya observe adalah caranya melakonkan pribadi masing-masing peran. Seperti egoisnya perempuan yang minta laki-laki ambil sikap, dan how innocent a guy can be alias nggak peka. Mbak Ika sangat tahu ini masalah pokok di antara makhluk Mars dan Venus, tapi dia selalu apik memposisikan karakter tokohnya dalam cerita yang berbeda.

Dari hangatnya cerita cinta Andrea dan Adjie yang harus kucing-kucingan pacaran karena takut ketahuan boss mereka, sering juga saya mencak-mencak karena kesal betapa immature-nya Andrea bersikap. Tapi bukannya itu realita dari kebanyakan potret wanita yang ingin di-treat lelakinya dengan penuh perhatian? Tidak jauh beda dengan kisahnya Ale dan Anya yang rumah tangganya getir karena kalimat menyakitkan Ale ke Anya. Padahal, menarik banget awal mula mereka bisa bertemu di pesawat. Belum lagi cerita Alexandra dan Beno yang dingin. Sebenci-bencinya Alex terhadap mantan suaminya, move on itu terlalu sulit. Karena bukan kehadiran orang yang kita cintai yang paling dirindukan, tapi momen-momen sederhana yang tidak bisa hadir lagi. Lain lagi dengan cerita Raia dan River yang menggambarkan  sisi fragile tiap orang yang susah disembuhkan jikalau tidak berkeinginan untuk memaafkan kenyataan dan berusaha menyembuhkan satu sama lain.

Saya sering teracuni saat membaca pembelajaran yang dihidangkan di buku-buku tersebut. Yang paling saya suka adalah soal Counterfactual Thinking di novel Architecture of Love. We tend to create possible alternatives for what already happened in our lives. It's like endless hoping. We love to use the word "what if" for the things we kinda regret in the past. But it's useless. We couldn't help it, could we? The past was the past.

Ada juga yang saya pelajari dari A Very Yuppy Wedding: hiding is ridiculously complicated, and trust is built with a strong communication and transparency between the two. Konflik di antara Andrea dan Adjie mungkin bisa diminimalisir jika ada tendency untuk saling memberi dan memaafkan.

Mbak Ika sering mem-pinpoint -kan bahwa komunikasi adalah hal sakral dalam menjalin sebuah hubungan. Karena dari situlah terjalin rasa percaya. Besides, meminta diperlakukan sempurna saat tahu bahwa tidak ada yang sempurna adalah salah telak. Misalkan saja, meminta lelaki untuk peka itu bagaikan air susu dibalas dengan air tuba. Eh salah pribahasa wkwkw. Maksud saya, bagaikan punguk merindukan bulan, alias mustahil terjadi. Makanya perempuan harus mengerti dan berusaha memg-comprehend-kan hal itu. Bukannya kita diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain? (Eaaak).

Dari novel Divortiare, yang saya petik adalah bahwa perpisahan tidak selalu bisa mengobati suatu masalah. Bahkan bisa timbul masalah baru yang sulit kita deal with, yaitu move on. Kita kadang terjebak dalam situasi yang memicu perpisahan. Padahal cinta jauh lebih besar daripada kesiapan kita untuk hilang dari bagian hidup satu sama lain.

Dari segelintir buku kurang ajar ini (please excuse my French wkwkw), saya berkonklusi bahwa cinta adalah sebuah kata kerja dan membutuhkan aksi nyata agar tetap langgeng. Relationship is the matter of giving your unlimited efforts to make the person you love happy. If you love the right person, you will get it in return. Please jangan tanya kapan saya bisa mengimplementasikan ini semua, karena yang penting saya sudah banyak bawa bekal dari buku-buku ini. When the right time finally comes I'll make sure that man will be the luckiest, hehe. Terima kasih Mbak Ika Natassa atas pesan-pesan berharganya, will definitely grab the rest of your books once I get back home.
Love presents along with vulnerability as its side effect. Yups, sometimes it doesn't make any sense at all. But I hardly take the love story which doesn't matter with the distance and only show meaningless effort from the two to be there for each other. Because for me, loving is a strong willingness to share mutual understanding by giving unlimited support. 

Sunday, September 25, 2016

A Little Glimpse of My Journey to England

Dalam suatu kompetisi bernyanyi, saya pernah berduet dengan sahabat saya Fajri menyanyikan lagu "A Whole New Wolrd" (sountrack film Aladin). Persis seperti liriknya "Unbelievable sights. Indescribable feeling", itulah yang sedang saya rasakan sekarang. Sudah lebih dari 2 minggu ini saya berada di a whole new different place called United Kingdom atau Inggris. Alhamdulillah, terbayar sudah mimpi yang pernah saya tuliskan di buku mimpi saya. Walaupun buku itu sempat saya tinggalkan karena tidak menerima kenyataan bahwa mimpi saya untuk pergi ke Kanada lewat PPAN kandas tahun lalu. But guess what? God has BETTER PLAN.

Beberapa waktu sebelum keberangkatan, saya dilanda emotional crisis. Saya bergulat dengan banyak sekali conflicted feelings sehingga harus merelakan bobot badan menyusut (sampai di UK langsung tembem lagi dong haha). Ada banyak hal yang membuat saya khawatir, sehingga lupa bahagia dan sering kebingungan. Sama kebingungannya ketika saya berada di pesawat dari Pangkalpinang menuju Jakarta. Sampai-sampai bapak-bapak di pinggir saya menoleh karena merasa aneh melihat badan saya stiff menatap monitor TV pesawat tanpa ekspresi dalam waktu yang lama. Saya bingung, kenapa saya di bandara tidak nampak emosional saat keluarga dan pacar menangis sendu mengantarkan saya. Oke, part yang pacar itu tidak benar adanya, wkwkwk. Perasaan aneh ini saya ajak tidur sampai tiba di Schipol Airport, Amsterdam untuk transit.

Bersama Bayu dan Ak Cecep di depan Trent Building, University of Nottingham

That Overwhelming Moment
The minute I saw the "Schipol Airport" sign from the airplane window during my transit in Amsterdam, I secretly whispered to myself, "Tanah Eropa, ya Allah. Tak ada pantas-pantasnya hamba dihadiahkan ini. Hamba selalu lupa bersyukur."
Itu adalah titik di mana saya ingat hal-hal sedih dan perjuangan yang saya lakukan yang sebetulnya masih jauh dari layak untuk dihadiahkan kebahagiaan seperti ini. Di detik itu pula saya ingat buku karya Pak Cik Ikal, 'Edensor' yang menceritakan tentang kisah anak melayu yang menuntut ilmu di tanah eropa. Saya juga mengingat betapa saya mengurungkan rasa excited berlebihan ketika menerima berita gembira kelulusan LPDP. Saya membatasi mencari tahu tentang hal menarik di Inggris, saya juga tidak begitu peduli dengan hal-hal penting yang harus saya comply di kampus University of Nottingham, bahkan saya tidak terlalu excited untuk packing sebelum berangkat. Bukan tanpa alasan saya mengurung rasa excited itu. Sebab, setelah gagal ke Kanada saya belajar bahwa life will be more deliberately exciting kalau saya tidak berlebihan dalam menanggapi suatu keberhasilan dan let life surprises us in the way we cant ever imagine. And now, see? I cry so joyfully meaningful saking bahagianya tidak berkespektasi tinggi hehehe. Eh, tapi dengan catatan ya, bahwa hidup itu tidak pasti, jadi kita harus terus berencana dan berjuang. Bukan menjalaninya dengan seenak perut wae, hehe.

Another overwhelming moment yang selalu bikin geli dan terharu adalah culture shock. Di Bangka saking panasnya kalau saya main ke pantai sebentar saja sudah bikin kulit belang-belang. Sedangkan di Nottingham yang sedang menjelang auntumn, saya kaget dengan suhu sekitar 9-15°C. Suhu seperti ini bikin nafsu makan meningkat dan kalau stamina tidak kuat bisa kena demam. Ada banyak kejadian yang buat saya merasa katrok, seperti saat salah kostum (baju ketipisan saat suhu rendah, lalu saya mesti kabur ke Primark buat beli sweater dadakan) dan tidak paham dengan apa yang dibilang mbak-mbak cashier bule sewaktu belanja groceries karena accent Nottingham-nya yang kental. Tapi ada yang paling berkesan, yaitu saat saya dan Bayu (housemate) sore-sore pulang dari kampus, dan dia bilang,"Eh, nafas kita berasap!". Dengan kampungannya saya histeris bilang,"Eh, iya Bay. Berasa banget kita lagi di Europe, ya.". "Ya emang!" Tukasnya. Lalu saya tertawa heboh sambil nyebuh-nyebuh nafas sendiri hingga Bayu suruh saya ketawa pelan-pelan. Sepertinya habis ini Bayu akan malu jalan bareng saya. Hahaha.

Kebahagiaan yang Berasal dari Doa-Doa Kecil
Hari-hari pertama di Inggris saya habiskan di London bersama Fajri. Saya kembali teringat tahun lalu mengantarkannya dan Widya (sahabat sejak dari SMA) untuk studi di Inggris sambil menyelipkan doa iseng,"Doakan aku menyusul kalian, ya". Itu uniknya hidup, kebahagiaan yang tercapai dari doa-doa kecil.

Tahun-tahun sebelumnya saya gemar menyelipkan doa-doa kecil untuk bisa menginjakkan kaki di tanah eropa. Salah satunya adalah lewat janji dengan teman. Dulu saya dan beberapa orang teman di Malaysia berkeinginan untuk travelling bersama ke eropa pada tahun 2016. Saya agak keberatan karena saya rasa saya belum akan makmur untuk travelling dengan uang sendiri dalam kurun waktu yang singkat. Lalu saya bilang ke mereka,"Hm, I am not sure if I can go to Europe in 2 years time. Because maybe I won't be financially independent. But let's see, maybe I can meet you guys there while studying". Itu doa iseng yang kedua.

Doa iseng ketiga yang saya ingat adalah waktu saya berjumpa Chef Norman Musa (a famous Malaysian Chef) setahun lalu. Saya dikenalkan oleh Kak Dya (fans Chef Norman) yang meminta saya melukiskannya. Chef bilang kalau lukisan saya di-display-nya di restoran "Ning" miliknya di Manchester. Lalu saya berkeinginan kalau nanti saya akan pergi ke sana untuk berjumpa kembali dengan karya saya itu. Pulang dari bertemu dengannya, saya langsung cari informasi seputar S2 di Inggris.

---

Selama di Inggris, honestly saya sedikit meninggalkan beban-beban moral di Bangka untuk mensyukuri kehidupan baru dan berkontemplasi. Di sini saya jadi semakin mengakui kebenaran bahwa Tuhan tidak pernah berbohong dengan janji-janji-Nya. Semakin pula saya sadar bahwa berdoa adalah kewajiban yang harus saya jadikan habit. Sebab doa adalah hal termudah yang bisa kita lakukan dan akan selalu di dengar oleh-Nya. The answers of our prayers? It's just the matter of timing. Mungkin sekarang, nanti, atau digantikan dengan yang lebih baik.

Ada yang berpesan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh seseorang, maka semakin besar pula tanggung jawabnya. It's not going to be an easy journey. Tapi Tuhan telah menitipkan amanah ini, dan semoga saya sanggup mengembannya. Terima kasih untuk semua yang telah mendoakan dan mendukung saya. Semoga teman-teman yang membaca ini dan berkeinginan untuk studi lebih tinggi dimudahkan jalannya untuk segera mengemban amanah baru. Aammin.


Thursday, April 28, 2016

Kehilangan Barang saat Travelling

"Segala apapun yang ada di dunia ini hanyalah sementara dan merupakan titipan dari yang Maha Kuasa. Maka, jagalah titipan tersebut. Namun jika telah waktunya sang Maha Kuasa ingin mengambil kembali titipan itu, maka ikhlaskanlah."

Kalimat tersebut entah kenapa selalu terngiang-ngiang di kepala saya beberapa hari ini. Maybe it's a strong signal that I will loose something or someone. And yeah, it happened! AGAIN

Pada tanggal 15 Oktober 2015 lalu saya mendapatkan musibah yang lumayan berat namun ringan. Saya kehilangan sebuah ransel yang berisi laptop, kamera Nikon D 5100, passport, 2 buah handphone, dan perintilan lainnya yang lumayan penting seperti buku panduan hunting beasiswa dan kacamata (yang tanpanya semua objek di dunia ini tidak lagi tampak HD terutama umtuk seseorang bermata minus 5.00 seperti saya). In short, kehilangan itu terjadi di sebuah R n R (Rest and Relaxation) di area Negeri Sembilan, Malaysia. Saat itu saya sedang dalam perjalanan dari Singapore ke Kuala Lumpur dengan menggunakan bus. Kejadiannya lumayan cepat, saya meninggalkan tas tersebut di dalam bus karena harus ke kaunter handphone untuk memotong kartu provider Malaysia menjadi nano card. Asumsi saya tas tersebut akan aman-aman saja berada di sana (karena selama 5 tahun tinggal di Malaysia, saya tidak pernah kehilangan benda penting apapun). Saya cuma membawa handphone beserta dompet menuju kaunter tersebut. Sekembalinya ke bus, saya asyik online. Hingga satu jam kemudian, saat bus sudah meluncur menuju KL saya sadar bahwa tas saya hilang.

Sisa foto bersama ransel yang menyimpan banyak cerita

As a quite impulsive and expressive person, biasanya saya heboh. Tapi entah kenapa malam itu saya cuma bisa senyum-senyum tenang dan berpikiran positif kalau Tuhan akan membalas ini semua dengan kebaikan yang berlipat ganda kalau saya tidak banyak mengeluh dan terus tabah. Sampai-sampai Pak Polisi di Bangsar Police Station was looking at me with a pity and said,"Akak dah sholat ke belum? Surau ade kat atas.". Mungkin bapak itu tau kalau ketenangan batin yang paling mutlak adalah ketika saya mengembalikan semuanya kepada Tuhan.

Kenapa saya bilang itu termasuk ujian yang lumayan berat namun ringan? Berat karena saya punya banyak alasan untuk mengatakan itu berat. I was financially broke at that time because I was just developing my start-up business, laptop and camera are crucial gadgets that I always use in that business, and many other complicated reasons. Tetapi di atas semua cobaan itu, saya sadar bahwa sebetulnya ini adalah salah satu "kehilangan teringan" yang pernah saya alami. Ada yang aneh ketika saya tidak sedih berlebihan dan move on dengan saat cepat, mungkin karena aslinya saya orang yang lumayan emosional. Tadinya saya berpikir, apa iman saya lagi kuat? LOL. Yang saya expose saat itu bukanlah poin-poin material yang equal dengan kerugian besar, namun solusi dan perilaku apa yang harus saya ambil setelah itu. Di situ saya melihat kualitas baru yang bermunculan dalam diri saya. So, instead of being all sad and grumpy, I became more grateful, optimistic, evaluative and extra careful.

------

Perhaps, my extra carefulness is not yet matured. On 27 April 2016, saya kembali kehilangan sebuah handphone yang umurnya belum genap 1 tahun. Lagi-lagi kehati-hatian saya diuji saat sedang travelling. Di Botani Square Bogor saya yang susah lepas dari handphone tidak biasanya menaruhnya di sudut toilet. Waktu itu memang agak rieweh karena celana saya tidak memiliki kantong dan saya malas menaruh handphone tersebut ke dalam ransel. Kurang dari 5 menit setelah keluar dari toilet saya baru tersadar bahwa handphone saya tertinggal di sana. Dari situ saya sudah mencamkan dalam hati untuk ikhlas walaupun saya masih berusaha mencarinya dengan melihat record CCTV yang ada di mall tersebut. Ingin marah? Panik? Hm, I was,. Tapi lebih panikan teman saya yang heboh mondar-mandir mencari bantuan dan menanyakan if I am OK.

Ini bukan soal materi, karena kalau soal materi saya akan menangis siang malam sebab saya juga tidak punya banyak uang untuk membeli handphone baru. Setiap barang saya hilang, yang sebetulnya membuat saya merasa "lost" adalah memori berharga dengan barang tersebut, kegunaannya dalam membantu pekerjaan sehari-hari, hingga files yang tidak bisa saya miliki kembali. Karena jikalau gadget-nya yang hilang (walaupun bernilai cukup mahal), bisa dibeli kembali kalau ada rezeki. But we can't buy beautiful memories.

------

Sungguh banyak pelajaran yang saya ambil dari peristiwa ini. Dan ada beberapa hal yang ingin saya share dengan teman semua.

Setiap orang di dunia ini pasti punya sisi baik, but THEY NEED MONEY
Sometimes I have this silly thought that maybe by letting go the stolen belongings, I am actually transferring my "wealth" to the people who need it. Even though I know that stealing is never be a good excuse to "get rich". Tapi mungkin saya kurang bersedekah, dan pencurinya perlu uang. Di atas itu semua saya berdoa semoga baik saya dan pencuri barang-barang saya disejahterakan rezekinya oleh Tuhan. Aamiin. Tapi perlu diingat bahwa segala sesuatu yang dititipkan Tuhan untuk kita adalah hadiah yang berharga, maka berwaspadalah dan jagalah dengan sebaik mungkin. Jadi bukan berarti kita mesti pasrah-pasrah saja ya kalau terkena musibah :)

Travelling yang simple-simple saja, jangan rieweh
Karena saya selalu kehilangan barang saat travelling, saya nampaknya memang harus meminimalisir barang bawaan di ransel dan lebih berhati-hati dalam menjaganya. Sebetulnya saya lumayan simple dalam ber-traveling seperti dengan beralas kaki santai (sandal gunung) dan berpakaian serta berjilbab simple (tidak banyak peniti). Namun sepertinya saya mesti lebih banyak mengevaluasi barang yang saya bawa dengan apa yang dibutuhkan. Misalkan, sebagai orang yang hobby melukis saya selalu membawa sketchbook yang ukurannya lumayan besar, mungkin hendaknya saya membawa yang kecil saja. Selain itu kalau takut bau badan sebaiknya cukup membawa botol minyak wangi berukuran minimalis. Untuk urusan gadget, kita bisa men-charge baterai handphone/kamera dengan maksimal sebelum jalan-jalan dan tidak memakainya secara berlebihan agar tidak perlu membawa charger atau power bank yang kabelnya sering melintir ke sana-sini. Untuk yang hobby photography mungkin bisa mulai memilih photography device yang lebih nyaman dibawa misalnya dengan membawa kamera pocket instead of DLSR yang relatif lebih berat.

AGAIN, BE CAREFUL!
Travelling adalah hal yang menyenangkan walau kadang memang melelahkan. Tapi jangan sampai kelelahan membuat kita lengah. Ibu saya selalu menasehati saya untuk selalu mengecek barang bawaan saya kemanapun saya pergi. Meletakkan mereka di tempat yang mudah dijangkau adalah pilihan yang tepat terutama saat bepergian sendiri. Jika memang ingin menitipkannya kepada orang lain, maka titiplah kepada orang yang terpercaya atau tempat penitipan yang dirasa credible.
Untuk barang yang bersifat soft copy, kita bisa lebih berhati-hati dengan rajin mem-back up data-data penting tersebut ke tempat yang lebih aman seperti hard disc atau google drive dan drop box.

Everything happens for a greater reason, so STAY POSITIVE
"Ketika kehilangan dan diuji, apapun bentuknya, bersyukur dan ikhlas adalah cara tepat, terlebih lagi manfaatnya jiwa jadi tentram. Caranya? Ingat pesan Allah saja. 'Di balik kesusahan pasti ada kemudahan'. Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya kepada kita, malah ditambah lagi, kalau kita bersyukur, nikmat kita akan ditambah
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ  
Jadi? Tanya hati, nikmat Tuhan manakah yang kau dustai?"
Di atas adalah kutipan caption foto di instagram saya saat kehilangan tas Oktober 2015 lalu. Sahabat saya pernah bilang bahwa segala yang kita alami adalah part of the life cycle  yang no matter what harus harus tempuh. Kehilangan dalam apapun bentuknya adalah suatu latihan untuk menghadapi kehilangan-kehilangan yang lebih menyakitkan seperti kematian orang terdekat atau kehilangan harta yang lebih banyak jumlahnya. Semua yang diamanahkan kepada kita pada akhirnya akan kembali kepada-Nya, maka tidak layak kita senang berlebihan apalagi bersombong ria.

Di saat ujian melanda, artinya kita sedang diingatkan untuk mengenang hal-hal yang mungkin selama ini salah atau lupa kita lakukan. Oleh karena itu, bermuhasabah/self reflection adalah penting. Namun ujian bukan untuk melemahkan kita, karena pasti ada hal indah yang tersembunyi di dalamnya. Saat saya menceritakan berita kehilangan saya kepada teman-teman, mereka ikut mendoakan bahwa nantinya segala kesusahan akan dibalas dengan kemudahan. Dan saya percaya itu.

------

Cerita ini saya tuliskan dengan maksud menasehati diri saya sendiri. Sangat membahagiakan jika secara tidak langsung tulisan ini bisa memberikan manfaat bagi teman yang membacanya. Semoga kita semua menjadi orang yang amanah atas segala pemberian dari Tuhan. Aamiin





Tuesday, April 19, 2016

My Pursuit of Dreams

When I was small (even until my middle school time), I never knew what I wanted to be in the future. I never got to choose my favorite school. All I knew was that my mom's choice would always be the best choice for me. And yeah, that's true tho. If she didn't pick the best ones for me, I wouldn't experience studying at the best schools in my hometown. I kept being "dependent" until one day I faced a very difficult situation: family financial crisis that made me urgently choosing either to continue my study to degree level (but I have to get scholarship) or working as a low paid government officer. This tough dilemma made me wondering if only I had enough money to pay for my university tuition fee, it wouldn't be this hard. Therefore I prayed to God to make me a business woman one day. However, as I grow up I furnished this dream of mine to be "A generous business woman" (Aaamiin).



Things got better when I got scholarship to study in Malaysia, hence Mom could save money to concentrate on developing her business. Her tough life experience has been shaping her ideas about perfect profession. I think a lot of parents out there prefer their children to have a job which provides stable income, so does my Mom. She always wants me to become a loyal employer who has a stiff work schedule, like becoming a government officer. Pension fund is one of the greatest reason why she wants me to do so. Therefore, during my study she always reminded me about one thing, "I don't mind if you love drawing or singing and having fun treasuring on your hobbies. But I dislike the idea of you being an artist in the future."

Art took a special position in my life when I was studying my degree in Real Estate Management. During class projects, I did more designing stuffs than calculating the value of properties. I got involved in several art communities rather than browsing about current real estate issues in Malaysia. However I tried to maintain my academic performance. I also experienced doing my internship program in one of the most renowned real estate consultancy company in Malaysia. 

 My roles as  aproject director in ERTI was one of the most memorable moment in my life

Well, it's never easy for me to tell Mom about my own version of great profession. Every person defines success differently. In her opinion, being a millionaire and working in an office is a dream job. For me who prefer works in active mobility, sitting in front of PC is definitely a boring job. I feel more driven when I do something that requires me to move my body freely, think creatively, and meet a lot of new people. But one thing that is a bit impossible for me to realize is I don't want to be anybody's employee, I wanna be a leader. These got me a lot to think, like A LOT. LOL

After graduated from UM I came back to that long and quite stressful self talking (again). Perhaps, many of people in their 20's will know how it feels. Gosh, I swear I hate this period of contemplation. Believe or not, I lost almost 10 kg last year (Should I be happy? LOL). At that very moment I also "lost" some friends. They were not exactly gone, but they were also trying to discover their own path. No body would like to be bothered during this period.
I had several options back then; continuing my master study, working in Real Estate Company in Dubai (my dream place), or building my own company. Before I decided what to do, I must make sure that whatever my choice is, that will take me to a happy life journey. Also, whatever my future job is, I must give great impact to my society. 

Proceed My Master Study
In my opinion, decision can only be made when we are able to see a long term impact of that decision in our life and our capacity to strive for it. Master study is not my No. 1 dream because I am not an academic kinda person. And I believed that without master degree anyone can get a good job. But I think, if only my late dad didn't get his bachelor degree, I wouldn't be much empowered to get higher education qualification. I wanna be like him, I wanna be a good example for my kids too! Moreover, education is always the best long term investment. Therefore, the next step that I set in pursuing this dream is to GET SCHOLARSHIP.

Working in Real Estate Company in Dubai
A lecturer of mine once introduced me to this guy who works in one of Dubai's prestigious real estate company. I don't know why, but I have this unique feeling about this City that made me writing its name in my dream book. Real Estate business in Dubai is exceptionally incredible. I was thinking if perhaps my degree can help me to generate capital which I can use for future business in Indonesia. 

Building My Own Company

Okay, this is the most challenging life choice that I could ever take. I love challenges, BUT what kinda business could I run? I am just an ordinary fresh grad with no money. After finishing my internship program, I had nothing to do. So I received some orders from some friends who wants to make customized business card with portrait drawing. Then I continued to draw Bangka Belitung postcards and sold them at the souvenir shops. I enjoy this job more than doing real estate project LOL. To enhance my skill, I learned graphic design at the very first time by the help of a friend. I could make some money out of it. Amazingly I couldn't stop creatively thinking about the next product innovation that I could create. But you know what? Mom asked me,"Do you really wanna waste your degree?" And I was like *^%&*^*$%^%$#

God, am I doing the right thing? What dream should I pursue first and which dream offers bigger deal over others? Again, I'm confused. Perhaps, some other people have the same problem too: knowing their dreams, but don't know how to achieve them. What I did was listening to people's opinion. Some said that doing our most passionate things will make the greatest decision while others said oppositely. They gave me new helpful insights. Eventhough as the result I decided to do those 3 things at the same time hahaha.

It was like gambling, but I keep forward. I believe that the red line will definitely come out of these complicated life story. I applied scholarship for master degree to reach my dream as an educated Mom for my children and to become future empowering "teacher" for my society. I continue doing my start-up business called Cikart and alhamdulillah things get better (I could hire some people to help me doing this small business). On the other hand, I tried to look for job in real estate firms including the one in Dubai. The result (not really the final one) was extremely exciting. Maybe God slowly answers my prayer to become a generous business woman. He didn't make me an employee at any real estate firms. Despites with my Mom's help (who at first disagreed with my life choice) I could make Cikart slightly bigger than what I've imagined. And as a bonus, I was awarded a full scholarship for MSc. in Entrepreneurship, Innovation, and Management in Nottingham University. 

It's not the end of my dream achieving story, yet it is the very beginning. LIFE IS BEAUTIFUL, isn't it? 


Tuesday, March 15, 2016

Rasa Syukur

Kalau diibaratkan sebuah rumah, maka blog ini catnya sudah pada luntur dan harus dipoles kembali. Kemarin-kemarin saya sempat galau mau menjadikan blog ini sebagai travel blog atau blog tentang kisah kehidupan pribadi saya. Tapi semenjak kamera saya hilang saat perjalanan dari Singapore ke Malaysia tanggal 15 Oktober 2015 lalu, keinginan untuk jadi travel blogger pun saya urungkan. Despites all that, saya sebetulnya masih aktif menulis tentang pengalaman travelling saya melalui Instagram dengan share foto seadanya (diambil dari kamera handphone). I found that Instagram is a cool media to post about it btw.

Oh iya, tujuan saya menulis malam ini bukan untuk share pengalaman travelling. Many things have changed in almost 2 years, including my age, life status, occupation, and also my mindset. I feel so grateful tho. 2015 lalu adalah tahun terberat buat saya, tapi tahun itu adalah tahun yang membuat saya banyak belajar dan bersyukur. For those who knew my Instagram account mungkin ada yang baca status saya mengenai review tahun lalu.

2015 has been a crappy year for me big deal. In fact, it has brought me enormous lessons to learn. I have traveled around my mood swings, terrible self crisis, drastic weightloss, broken hearts, gadget lost, and them all has been truly hurting me. Despites all that I also have managed to travel around new places and countries, making new friends, brave enough to dig a start up business, graduating from No. 1 University in Malaysia, fell in love (but fail again, lol), and so on. Still, I am on my way to search for my own chill

I realize that there are many things that wanna stop me from doing right things. I also realize that somehow I am not able to fit in an unpleasant place called home. My confidence belongs to other place where people are more appreciative than here. Should I run away or continue to be unhappy but struggling to make changes for others? It's still a question tho. Life means discovering


I am really thankful for my past. Jatohnya, saya sekarang tahu kalau Lenka memang benar, "Trouble is a friend". Setiap kali saya dihadapkan sebuah masalah, dulunya saya selalu bertanya, "Why God? Why Me?". Tapi luckily masalah-masalah di masa lalu mengajarkan saya untuk bermental lebih dewasa saat menghadapi masalah, hingga saya selalu bertanya,"What such of kindness and surprises are you preparing for me, God? Pelajaran apa yang mau Kau ajarkan untukku, Dear Allah?". Jadi kalau dulunya uring-uringan karena kesal saat ada masalah, sekarang uring-uringannya lebih kepada penasaran ingin segera mencari jawaban atau hikmah yang bisa saya ambil. I don't know if it's a good way to overcome an issue or not, but it works for me. Alhamdulilah.

-----

Meanwhile, malam ini saya sempat mengobrol lewat telepon dengan seorang sahabat. Darinya saya belajar banyak hal, terutama tentang bagaimana kita seharusnya menghargai proses sebuah hidup dengan cara bersyukur. In his opinion, syukur itu bervariasi dan tidak punya tolak ukur penilaian. Tiap orang pasti punya hal tertentu dalam hidupnya yang membuatnya bersyukur, Rasa syukur orang yang lulus suatu tes beda dengan rasa syukur seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sebuah pesantren kecil. I agree that everyone has their own standard of success and happiness. Tentunya standard itu didukung oleh latar belakang masing-masing pribadi tersebut. Makanya syukur itu bervariasi. Ah, saya suka pembicaraan seperti ini. Dan saya bersyukur punya partner ngobrol seasyik sahabat saya ini.

Belum lama kami berkenalan, namun lagi-lagi saya bersyukur karena mengenalnya di saat masa sulit kami di tahun lalu. Jadi ketika kami saling mengabari kabar gembira, kami saling berbahagia (dan juga kembali bersyukur). Mungkin ini adalah result dari penghargaan kami tentang proses hidup. Kami sering flash back tentang apa yang telah terjadi di masa lampau, betapa kadang kami merasa tidak beruntung tidak bisa mewujudkan mimpi kami. Namun sepertinya kami adalah orang-orang pilihan (dan sangat beruntung) untuk mendapatkan masalah yang kami alami tersebut.

-----

Saya sering cengeng kalau tiba-tiba ingat masa lalu yang sangat susah. Kalau lagi "in the mood" saya bisa nangis haru di mana saja kalau ingat perjuangan jaman dulu, mau itu di WC ataupun di atas motor, LOL. Biarlah itu wujud syukur saya dalam menghargai masa lalu dengan rasa haru atas hasil yang saya terima sekarang.

Saya tipe pembalas dendam sebetulnya. Agak salah sih kalau yang satu ini, tapi versi motivasi saya lain agaknya. Jadi ya, ketika saya gagal atau tidak mampu dalam satu hal, saya sering bilang,"Suatu hari nanti saya akan membalas kekalahan saya ini" atau yang paling sering saya latih sekarang adalah "Saat ini saya punya banyak ketidakmampuan dan sering dibantu orang, saya harus balas kebaikan orang ini di masa mendatang (sambil doa, hehe)". Ada beberapa pembalasan dendam yang terealisasi, ada juga yang tidak. Yah, maybe I should fix my intention-maklum, diri ini tiada sempurna. Untuk bagian membantu orang, sampai  saat ini saya merasa belum mampu membalas kebaikan mereka. Tapi ni jadi trigger besar supaya saya mesti  bisa sukses di masa depan, aamiin.

Maafkan jika potingan ini terlalu "heavy" dan berbelat-belit. Cara kerja otak saya memang membingungkan, makanya saya sering ling-lung hehe.

Banyak hal yang terlalu menyakitkan di masa lalu yang ternyata mulai saya petik keindahan hikmahnya sekarang. Dan keindahan ini adalah amanah, tapi bisa juga jadi cobaan kalau saya terlena dan lupa bersyukur.

Ya Allah terima kasih 
Atas masa-masa sulit yang Kau berikan
Waktu berpikir yang melelahkan
Penyakit yang Kau titipkan
Keresahan atas pencarian jawaban
Cibiran orang yang kadang menyakitkan
Kegagalan yang menakutkan

Ya Allah maafkan
Atas rasa syukurku yang selalu kurang
Putus asa yang selalu datang
Janjiku yang selalu lupa kubayarkan
Sesalku akan banyak keputusan
Keluhan yang banyaknya tidak karuan
Kebahagiaan yang sering kulupakan
Kesombongan yang memuncak tak berlawan


Ada kisah yang tak sederhana di balik foto di atas, mulai dari tempat diambilnya, suasananya, orang yang mengambil fotonya, kamera yang tergantung di leher saya (yang sudah tiada), ransel (yang juga hilang, oke ini harus move on LOL), hingga jaket yang saya kenakan. Semuanya membuat saya bersyukur (sangat mendalam). Tahun ini di tanggal yang sama dengan waktu foto ini diambil tahun lalu, mungkin saya akan punya cerita baru, teman, dan harapan baru. InsyaAllah.






Tuesday, August 19, 2014

Summer / Eid Fitr Holiday in Belinyu, Bangka


As I promised, here is a simple story of my trip to Belinyu that I had during Summer/Eid Fitr Holiday.

It was started from a wedding invitation that I received from a friend who lives in Belinyu. Belinyu is located in Central Bangka district. If you look at the map, it is situated at the northern part of Bangka Island. To reach there, we have to drive at least for 2 hours from Pangkalpinang. I asked my Couch Surfing Bangka Belitung friends (usually called as CS Babel) to accompany me. One of us rented a car. Normally, the rate is around Rp 250,000 to Rp 300,000 to rent Kijang Innova or Toyota Avanza for 24 hours rent excluding the gas.

Belinyu

It was my very first time going to Belinyu, kinda ashamed for me to tell this because I have been living in Bangka for long time but never got the chance to go there. I heard a lot from people about amazingly beautiful beaches and isles in Belinyu. Fortunately I have some friends who live there, so I contacted one of them, Abdi. He is a good friend of mine since I joined Youth Tourism Ambassador of Bangka Belitung (Duta Wisata Bangka Belitung) in 2010. It was kinda last minute to tell him that my friends and I were going to Belinyu. Luckily, he responded my message quickly. Right after the wedding party, we headed to Abdi's house. He told to us that we could go to Batu Dinding Beach which is located around 100 meters away from his house.


 

This beach is called as Batu Dinding because of the appearance of the giant rock (Batu) that resembles shape of giant wall (Dinding) facing the sea (as you can see at above pictures).

The beach is situated nearby a cliff whereby a hilly land with great panorama is located. In below picture is shown the view that we can see from the top of the hill. There is small jetty for the fishermen nearby. Area of Batu Dinding beach is actually owned personally by a local resident. The owner collects donation from the visitors. The donation is later to be used for the sake of taking care of the beach and to maintain the cleanliness of the area.




We later left Batu Dinding beach to enjoy our the next stop, Tanjung Penyusuk beach. This beach is a favorable spot for people who want to enjoy its clear water and pretty view of giant granite. Normally, there are more visitors come here during weekend and holiday than weekdays. Especially knowing that this beach is getting more famous by the meantime. You can relish wonderful panorama of the beach and as well as fell the windy air by sitting at the small beach store nearby the beach. It sells fresh coconut water, watermelon, and some snacks. You  may bring your own snacks from home, but do not forget to throw the garbage at the bin, otherwise you can bring your own garbage bag and bring back all the garbage to be thrown away at your home.

Not very far away from Tanjung Penyusuk beach, we can see isles. People call them as Lampu Isle (Pulau Lampu) and Putri Isle (Pulau Putri). Both of them are well known as good spots for diving/snorkeling. My friends and I rented a small fisherman boat that cost us around Rp 150,000 - Rp 200,000 for return trip to Lampu Isle. You may negotiate with the boat owner/fisherman if they ask you for higher rental. Sometimes, they charge the rent per person rather than per group of people. So, my suggestion is if you go there in a group, you better negotiate the rent in group basis than per individual. It is because renting in group basis is sometimes cheaper than in individual basis. It is also better to have local Belinyu friend who can negotiate the rent with the boat owner/fisherman. Hehehe (Thanks, Abdi). By the way, it only took us around 10 to 15 minutes to Lampu Isle from tanjung Penyusuk Beach.

So, what's so special about Lampu Isle? A bit different from Putri Isle, there is a tower located in Lampu Isle. This tower is used as light house to guide people to sail at night. Perhaps, that is why this isle is called Pulau Lampu or Light Isle in english term. Many people climb up the tower to see the view of isle surroundings. The most amazing thing  you can see is the visible coral in the sea from the top of this tower. You will also be amazed by the clarity of the water that enable you snorkeling and see some little fishes and sea creatures swimming in the water too. For sun catcher, Lampu Isle is one of the best place to capture the sunset moment. For photography lovers, prepare your camera and also be ready for the beauty of this isle. Oh ya, this isle is also accommodated with facilities such as fresh water and prayer room. For muslim visitors, you should not worry to pray here ;)




The time seemed to pass too soon. I will be missing this amazing place. Eventhough we didn't spend much time here, at least this trip left such super amazing memory for me. InsyaAllah, one day I will come back again.
Special thanks to CS Babel and Abdi :)



Saturday, August 9, 2014

Summer / Eid Fitr Holiday in Ketawai Island, Bangka

I can see spider webs here and there in this blog. Hahaha. This blog is long out of touch. Even a friend of mine asked me why I do not post anything recently. I said, "Because I don't travel anywhere recently". LOL

During exam time, I already promised my self to have good time travelling around Bangka for my summer holiday. I wanted to reach some places I had never been in this my own home island. So, I finally found right time which was during the Eid Fitr break.

Eid Fitr break in Indonesia is usually for 2 weeks- 1 week before the Eid Fitr day and 1 week after Eid Fitr day. It is a very suitable moment for people who live far away from their hometown to go back to their family's house. We call it as "Mudik". We usually use this moment to gather and share happiness with family and friends. I always get the chance to meet my relatives and friends who live study outside Bangka. The traffic is quite crowded during Eid Fitr break. Especially in Bangka, every house celebrates this special moment by having open house which we call as "Namu" or "Bertamu" in Bahasa Indonesia. You can eat as much as you can in everyone's house. Because each house will serve a lot of foods like cookies, Bangkanese seafood meals like Tekwan and Pempek, and also regular Lebaran foods like Rendang, Ketupat, Lepat, Opor Ayam, etc. Some other people celebrate this moment by going to beach to refreshing with family and friends

I also didn't want to miss this chance by arranging some plans with my friends to travel to Ketawai Island. Here you go....

 Ketawai Island




I arranged the plan to go to Ketawai island with my high school friends. We barely meet each other except for Lebaran. This was kinda last minute plan. Especially knowing that none of us had ever been there before. We did on the spot check about the transport to go there by asking the people in the neighborhood of Kurau. Oh ya, Ketawai island is located in Middle Bangka district. We have to drive about 30 minutes from Pangkalpinang (the capital city of Bangka Belitung) to reach Kurau at first. Kurau is a fishermen settlement. From there we should find a boat that can transport us to Ketawai island. It is recommended to go with quite big number of people (15 to 20 people) to Ketawai island because the boat rent is quite expensive if we travel alone. The rent is around Rp 800,000 to Rp 1,000,000. You can negotiate with the local fisherman who own/rent the boat. It is also recommended to find the boat which is equipped with life vest for safety reason.



After around 30 to 45 minutes (depend on the weather), we will reach Ketawai island. It is recommended to go there in the morning before 12 pm. Because it is safer to go back to Kurau not too late in the afternoon. It is because the weather may not be nice and the waves are to dangerous for sailing. And do not forget to get the contact number of the boat's owner. In case something happens.



 Local people recognize this island by its iconic  nameplate of "Ketawai" as we arrive here. You will be welcomed by light blue and clean water from the beach. The sand is very soft and clean too. You don't have to pay any entry fee here. You may bring your own foods and drinks, but do not forget to take care of the rubbish afterward.


The island is not that big. No cottage to stay here at night, at least you want to build a tent. But I am not sure if we are allowed to stay there at night. There is a family who help to take care of this island. They provide some facilities like a small food and beverage shop, prayer facilities (small surau/mushola), and also fresh water to wash your body after swimming at the beach.







Special thanks to Katomz, my dearest high school friends. You all totally made my day! ^_^



*In anytime soon, I will be posting about my trip to Belinyu, Bangka. So, keep calm! ;-)