Thursday, February 9, 2017

Tolerasi? Bagaimanakah Cara Kita Menyikapinya?

Sudah lama sekali pembahasan soal tolerasi ini jadi buah pikiran saya. Sudah lama juga saya sangat ingin membuka diskusi terbuka dengan teman-teman saya supaya saya jadi lebih paham dengan situasi yang sedang terjadi. Tapi rasa takut untuk "berbicara" tampaknya lebih dominan, menimbang banyak sekali orang di luar sana yang sensitif dan cenderung menutup pemikiran untuk menerima pendapat orang lain. Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin menjelaskan bahwa saya bukanlah seorang ahli dalam bidang agama atau pun sosial-politik. Saya cuma seorang manusia biasa yang haus akan ilmu. Kebetulan saya diberikan kesempatan untuk belajar berbagai hal dari tempat satu ke tempat yang lain, berkenalan dan berteman dengan orang dari latar belakang yang beragam, dan pernah merasakan menjadi kaum minoritas dan mayoritas.

Sekian lama menunda untuk bicara, saya akhirnya memberanikan diri juga. Mungkin ini akan menuai kritikan dari teman-teman pembaca. Tapi ya sudahlah, bukankah kita diberikan kebebasan untuk beropini? Walau kadang kesempatan beropini menjadi akar sebuah perpecahan. Menurut saya, tidak ada yang salah selama kita saling menjaga rasa nyaman dengan siapa kita beropini (misalkan saja dengan menggunakan bahasa yang sopan dan tidak menyinggung). Niat saya menuliskan ini hanya ingin berbagi pendapat dari pengalaman dan pemahaman saya sejauh ini dengan segala keterbatasan pengetahuan saya.

Saya sendiri adalah seorang yang lahir dari keluarga multi-etnis. Almarhum bapak saya berdarah campuran China-Jawa, sedangkan ibu saya berdarah campuran Bangka-Sunda. Sejak kecil saya dikenalkan beberapa budaya dan sering pindah dari satu daerah ke daerah lain. Lahir dan (akhirnya) menetap di Pulau Bangka membuat saya nyaman dengan dengan multikulturisme yang berkembang di sini. Seingat saya, 30% dari jumlah penduduknya adalah etnis China yang sangat rukun dengan etnis melayu dan etnis lainnya. Bapak kerap mengajak saya untuk bersilaturrahmi dengan keluarga kami yang beretnis China, bahkan dulu dia menginginkan saya bisa berbahasa Mandarin. Teman-teman terdekat pun banyak yang berasal dari entnis tersebut. Kami bahkan melakukan kegiatan bakti sosial bersama-sama pada saat bulan Ramadhan. Sangat indah saya rasa jika hubungan baik seperti ini terjaga.

Saya bangga berasal dari Indonesia yang warna-warni suku budayanya, agama, bahasa, dan lain-lain. Rasa bangga ini selalu saya bawa ketika saya mengobrol dengan teman dari negara yang berbeda. Banyak yang tidak percaya bahwa Indonesia adalah negara "Besar" yang memiliki lebih dari 17,000 pulau dan ratusan bahasa daerah. Semangat Bhineka Tunggal Ika selalu jadi pengokoh persatuan kita. Namun akhir-akhir ini saya merasa sedih dengan isu tolerasi yang berkembang. Maafkan jika saya tidak banyak paham soal ini dikarenakan sedang berada jauh dari nusantara dan hanya mengamati lewat berita dan obrolan dari kerabat dekat. Yang sangat nyata terjadi sekarang adalah masalah perbedaan memicu keretakan persatuan yang selama ini kita junjung.

Bersama teman-teman dari ragam latar belakang di Indonesia saat program pertukaran pemuda di China

Sharing berita dan argumen yang menebarkan hatred atau kebencian pun berseliweran di media sosial. Ini tentunya menambah kekhawatiran, apalagi banyak yang menyebarkan berita palsu atau Hoax. Salahnya banyak yang membaca dan menyebarkan informasi tanpa menyaring mana yang benar dan salah. Paling nampak terjadi sekarang adalah men-judge sesuatu dengan sesuka hati tanpa melihat dari berbagai sisi. Isu tolerasi naik ke permukaan dikarenakan berhubungan dengan orang yang berpengaruh besar di negeri ini, seorang pemimpin. Hingga menuai aksi besar-besaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Saya sebetulnya sangat malas membahas hal sensitif seperti ini di sosial media, namun kemarin karena lumayan "gerah" saya pun angkat suara dengan mengajak teman-teman semua untuk berpikir terbuka dan saling memaafkan di status media sosial saya tersebut(perlu diketahui, perlu waktu setengah jam untuk berpikir apa yang harus saya tuliskan waktu itu). Namun yang ada malah saya diduga tidak membela agama yang saya yakini. Bahkan ada yang menyinggung keberadaan saya di luar negeri membuat saya kurang cinta dengan negara sendiri. Hmm, saya jadi sedih. Mungkin teman yang berpendapat seperti itu salah mencerna maksud saya, membayangkan nada bicara saya yang seolah-olah sedang meremehkan aksi yang sedang terjadi. Sejujurnya, saya sangat mendukung aksi yang mengatasnamakan kebaikan. Asalkan niat yang baik tersebut dilaksanakan dengan sebaik mungkin tanpa menuai kontroversi lain dan tidak jadi masalah yang tidak berkesudahan. Saya bersyukur masalah ini naik ke permukaan karena menunjukkan bahwa masih banyak yang peduli dan membela agama dan kepercayaannya. Namun, alangkah lebih baik jikalau kita saling memaafkan. Bukankah kita cuma manusia (bukan Tuhan) yang tidak berhak menghakimi orang lain? Apakah kita sudah merasa jadi pribadi yang lebih baik dari yang tertuduh? Pernahkah kita berpikir bagaimana jika kita menjadi kaum minoritas yang dilecehkan harga dirinya di muka umum?

Isu toleransi juga sedang memanas di negara-negara lain, Amerika Serikat misalnya. Cuma sepertinya situasinya agak terbalik. Kaum minoritas menyuarakan kenginan mereka agar diperlakukan adil oleh pemimpin mereka. Masyarakat Amerika menolak presidennya untuk menetapkan aturan baru yang menimbulkan kerugian massive (karena berhubungan dengan hajat hidup orang banyak).

Saya ingin berbagi pengalaman menjadi kaum minoritas di Inggris. Awal mula datang ke sini saya sangat pemalu dan agak waspada, takut sekali diperlakukan semena-mena seperti yang ada di media-media. Terutama karena saya memakai identitas agama saya kemana-mana: jilbab. Saya takut tampil di muka umum karena saya pikir orang akan memandang sebelah mata karena jilbab yang saya kenakan. Apalagi identitas oriental yang tidak bisa saya tutupi dari warna kulit dan mata saya membuat saya berpikir bahwa orang akan meremehkan saya sebagai seorang pendatang. Ternyata saya SALAH BESAR. Selain itu, self-esteem issue yang saya alami bukan karena judgment (yang saya khawatirkan akan keluar) dari orang lokal ataupun kaum mayoritas. Itu semua hanya ada di kepala saya. Saya belajar membuka pikiran dan berani berkenalan dengan orang yang berbeda jauh dari saya. Kadang saya mengetes apakah benar kaum mayoritas di sini memandang tolerasi dengan cara yang berbeda? Sebagai umat muslim di negara mayoritas non-muslim, jadi tantangan sendiri untuk istiqamah beribadah. Kalau di Indonesia, pada saatnya shalat dan tidak berada di rumah biasanya sangat mudah kita temui masjid atau tempat lain untuk beribadah. Tapi di sini sangat berbeda. Saat berwisata ke Manchester, saya sempat bingung ingin shalat di mana. Akhirnya saya beride untuk memakai ruang ganti (fitting room) di sebuah butik di dalam Mall. Namun saya harus mengambil baju dan berpura-pura ingin mencobanya. Karena saat itu saya tidak ingin berpura-pura sebagai pembeli, akhirnya saya jujur dengan penjaga butik tersebut bahwa saya ingin memakai fitting room mereka untuk shalat. Tanpa berpikir panjang, penjaga tersebut mempersilahkan saya untuk shalat dan mengecek ruang ganti tersebut agar saya nyaman beribadah. Di kesempatan lain, saya pernah mampir ke Tea Studio milik seorang sahabat yang berasal dari China yang beragama Budha. Saat memasuki waktu Dzuhur, saya meminta izin untuk beribadah di sana. Dengan penuh rendah hati dia mengizinkan dan berkata."Sure, I will make sure not making any noise when you are praying". Hingga sekarang dia terbiasa dengan hal tersebut tiap kali saya berkunjung. Toleransi yang sangat indah bukan?


Keseruan saat bermain games di kampus bersama teman sekelas (University of Nottingham, 2016)

Coba tebak, dari mana saja teman-teman saya ini berasal? Berbeda kepercayaan, suku, budaya bukan jadi halangan kami untuk bersahabat. Saya sangat bersyukur bisa mengenal mereka semua (University of Malaya, 2012)

Sejujurnya saya pun pernah menjadi orang yang sangat subjektif dalam menilai cara berpandang orang lain yang bebeda dari saya, hingga akhirnya menimbulkan rasa tidak nyaman dan pertengkaran. Saya pernah harus menerima kenyataan bahwa teman dekat saya seorang biseksual, dan di kasus lain saya terkejut melihat teman yang membuka jilbabnya. Jadi dilema besar bagi saya, apakah saya harus memutuskan tali silaturrahmi dengannya hanya karena persoalan itu? Haruskah saya memaksakan mereka untuk kembali  ke jalan yang benar tanpa mendengarkan kesulitan yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan mereka? Mungkin saja mereka berada dalam kondisi dan trauma yang tidak semua orang bisa pahami. Pernah juga saya marah besar dengan seorang teman kristiani yang memandang islam dari sisi berbeda, padahal dia cuma ingin bercerita tentang apa yang dia pahami. Walau pada akhirnya saya berpikir bahwa dia tidak salah mengutarakan apa yang dianggapnya benar, dan saya salah telah berperilaku semena-mena men-judge bahwa yang dia pikirkan adalah salah. Saya seharusnya lebih mendalami ilmu agama dan berperilaku baik saat menjelaskan apa yang saya percaya kepada orang lain (karena saya tidak mau karena sikap buruk saya dalam menjelaskan soal islam membuat orang lain berpikir bahwa islam adalah agama yang menebarkan kebencian). Sebagai kaum minoritas, saya juga sering dikejutkan dengan hal-hal yang di luar dari budaya dan kepercayaan yang saya anut. Misalkan saat saya dengan tidak sengaja datang ke kelas melukis yang modelnya tidak berbusana, atau datang ke suatu acara yang menyajikan makanan dan minuman non-halal. Lalu apakah saya harus protes? Saya membayangkan jika saya terus menjadi orang yang tidak bisa menerima perbedaan ini, maka saya tidak akan "berkembang", bahkan bisa jadi saya dikucilkan dari kehidupan sosial.

Kita hidup di zaman yang mana kita tidak bisa lepas dari peran satu sama lain, apapun itu latar belakangnya. Saya tidak menyalahkan mayoritas keinginan umat islam yang ingin dipimpin oleh pemimpin muslim. Tapi ada kalanya saya berpikir jikalau dalam keadaan tertentu kita tidak bisa memilih untuk "selalu" dipimpin oleh seorang muslim, apakah kita harus "menyerah"? Bagaimana nasib TKI di negara mayoritas non-muslim yang menopang hidupnya dengan bekerja di bawah kepemimpinan seorang atheis atau orang yang beragama lain? Sedangkan sangat sulit untuk mereka mencari pekerjaan di negara sendiri. Atau seperti saya, seorang mahasiswa yang belajar dari orang nasrani. Apakah saya harus memaksakan diri mencari dosen yang hanya muslim? Di kasus yang lebih serius soal tolerasi, apakah kita harus menghentikan hubungan baik dengan orang lain hanya karena kita tahu bahwa mereka berbeda dengan kita? Saya ambil contoh ketika Presiden Donald Trump memutuskan untuk membatasi jumlah imigran yang masuk ke AS. Padahal tanpa disadari yang selama ini banyak membantu perekonomian AS adalah imigran dari luar negeri, terlepas dari latar belakang mereka sebagai buruh ataupun ekspatriat.

Di banyak kesempatan saya mencoba berobservasi tentang cara orang asing memahami makna tolerasi. Sejauh ini yang dapat saya simpulkan, walaupun berbeda pendapat dan latar belakang kita bisa hidup dengan nyaman dan berdampingan satu sama lain. Berbeda pendapat tidaklah salah. Namun perlu diingat bahwa tidak selamanya apa yang kita pikirkan selalu benar di mata orang lain. Berperilaku baik saat mengutarakan pendapat tentu dapat mempermudah orang lain mengerti apa yang sebetulnya kita maksudkan. Orang akan lebih respect jika kita menggunakan bahasa yang santun dan tidak provokatif. Kita juga harus pandai membaca situasi serta meneliti secara hati-hati sumber informasi yang kita dapatkan. Saat beropini, memberikan pemahaman secara menyeluruh tentang yang kita pahami tentu sangat signifikan perannya. Tetapi kita juga harus paham, bahwa kita harus mau mendengarkan apa yang orang lain pahami tanpa memaksakan orang tersebut untuk setuju dengan apa yang kita percaya. Dalam suatu situasi, kadang kita juga harus menempatkan diri kita dalam posisi yang orang lain sedang alami. Bayangkan jika masalah yang dia alami itu terjadi dalam hidup kita, apakah kita bisa melewatinya dengan mudah?

Pembahasan kali ini berat juga ya? Hehehe, semoga teman-teman pembaca paham maksud yang ingin saya utarakan. Tidak pernah sedikitpun ada niat saya untuk memecahbelahkan persatuan yang ada. Sekali lagi, saya hanyalah manusia fakir ilmu yang ingin terus belajar. Saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk cerdas dalam mengutarakan pendapat dan melihat isu tolerasi dari sudut berbeda. Saya juga sangat ingin mendengarkan apa yang teman-teman pikirkan, tidak menutup kemungkinan saya telah salah. Artinya saya juga harus terus berintrospeksi diri. Lastly, saya ingin berpesan (juga untuk diri saya sendiri) "Stay humble and be kind to others" :)



No comments:

Post a Comment