Saturday, October 22, 2016

Studi S2 (Part 2): Berburu Beasiswa LPDP (Seleksi Administrasi)


Menikmati musim gugur di Nottingham Castle


"Yaz, syarat pendaftaran beasiswa LPDP apa aja ya? Interview-nya susah ga sih? Aku pengen banget ikutan, tapi aku ga PD nih sama bahasa Inggrisku. Mesti test IELTS dulu kan ya ?"

Itulah pertanyaan yang kerap kali saya terima mengenai beasiswa LPDP. Walaupun LPDP sudah memberikan beasiswa selama 5 tahun, nampaknya banyak yang masih lazim. LPDP sendiri adalah singkatan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang dinaungi oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia. LPDP juga dikenal sebagai lembaga dengan managemen pengelolaan beasiswa terbaik di Indonesia. Sungguh saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari awardee LPDP. Sebelum melanjutkan membaca tulisan saya, ada baiknya teman-teman menonton official video dari LPDP berikut ini.


Mudah-mudahan video di atas bisa menjawab sedikit rasa penasaran teman-teman soal beasiswa LPDP. Kalau begitu, saya pamit dulu. Wassalam. Eh, hahaha  XD

Basically, seperti postingan sebelumnya, yang saya ceritakan di sini hanya berdasarkan pengalaman saya yang sangat mungkin berbeda dari awardee LPDP lainnya. Akan sangat membantu kalau teman-teman juga membaca dari referensi lain. Besides, ada kemungkinan terjadi perubahan dari segi persyaratan, proses seleksi, standar penilaian, dan lain-lain di masa mendatang. Lebih baik teman-teman secara berkala mengecek langsung ke website resmi LPDP untuk info lengkapnya.

Yaz, LPDP banget nih? Gak coba beasiswa lain ya?
Sebetulnya keinginan melanjutkan S2 waktu itu belum sangat kuat, karena saya ragu ingin melamar kerja, melanjutkan usaha, atau belajar lagi. Tapi saya kekeuh kalau S2 maunya yang gratisan hehe. Ada banyak sekali peluang beasiswa yang informasinya saya dapatkan dari teman dan internet. Tapi karena situasi tersebut, saya mencoba ikut seleksi beasiswa LPDP dulu. Dengan rencana, kalau tidak lulus seleksinya, baru saya akan coba AAS, Chevening, dan lain-lain. 

Apa saja sih persyaratan administratif pendaftaran beasiswa LPDP?
Kalau ada yang menanyakan ini biasanya langsung saya refer ke website LPDP, karena ada banyak sekali berkas yang harus disiapkan. Di sini saya hanya akan membahas persyaratan yang sering ditanyakan oleh teman-teman. Semoga bermanfaat.

  • Tes IELTS. Biasanya ini bagian yang paling sering dikeluhkan. Maklum, English bukan bahasa ibu kita. Saya dulu juga agak deg-degan, tapi alhamdulillah tidak sampai bikin ciut. Berbekal uang pas-pasan dan waktu yang sempit, saya memilih untuk belajar sendiri. Berhubung waktu itu saya magang Senin-Jumat (kadang Sabtu kerja juga), akhirnya saya nyambi belajar di dalam bus yang sedang menyusuri macet selepas pulang kerja atau saat jam makan siang. Beruntung sekali teman-teman yang masih punya waktu untuk menyiapkan diri, apalagi yang bisa bayar lebih untuk ambil kelas bimbingan. My point is, jangan jadikan tes IELTS sebagai beban. Semua tergantung usaha. (Maaf ya, saya rada jengkel sama yang suka mengeluh sebelum mencoba hehe). Kenapa saya ambil IELTS duluan? Karena biasanya IELTS jadi bagian penting seleksi beasiswa ataupun proses pendaftaran universitas di luar negeri. Kalau IELTS-nya sudah siap, tentu akan lebih mudah menyiapkan berkas lainnya. Oh iya, teman-teman juga harus memperhatikan syarat grade yang diberikan LPDP dan universitasnya ya. Karena bisa jadi berbeda.
  • Essay Writing. LPDP mewajibkan kita untuk menuliskan 2 essay  (500 sampai 700 kata) dengan tema: “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku”. This is a quite a big challenge untuk tiap peserta, karena jujur saja menurut saya ini adalah point crucial dalam proses seleksi. Essay adalah refleksi diri  yang akan dinilai oleh tim penguji. Akan jadi sangat panjang kalau saya bahas satu persatu apa saja yang mesti dituliskan di sini. Sebab setiap orang tentu punya standar dan gaya penulisan yang berbeda. Tapi di bawah ini saya tuliskan saran pembuatan essay yang baik berdasarkan pengalaman saya.
  1. Menurut saya hal pertama yang harus diperhatikan adalah mengetahui tujuan dari lembaga tersebut memberikan beasiswa. Kalau kita tidak mengerti tujuan pemberi beasiswa, bisa saja apa yang kita tulis akan melenceng dari apa yang diinginkan mereka. LPDP sendiri menginginkan awardee-nya untuk belajar dan berkontribusi untuk Indonesia di masa mendatang. Akan sangat baik jika di dalam essay dibubuhkan nilai yang menggambarkan kita sebagai seorang yang bercita-cita besar serta siap mengabdi pada negeri. Kita juga bisa menambahkan pengalaman dalam berkontribusi di lingkungan sosial. Lebih bagus lagi kalau pengalaman kontribusi ini linear dengan jurusan kuliah yang akan diambil supaya meyakinkan penguji bahwa kita sudah pernah turun ke lapangan dan berkeingingan belajar lebih jauh melalui jalur S2/S3. Bingung tidak maksudnya apa? Hehehe. Essay saya dulu menceritakan pengalaman saya berwirasusaha sosial dengan menyisihkan 10% dari harga penjualan untuk sosialisasi pendidikan ramah lingkungan. Saya juga menyelipkan bahwa menjadi awardee beasiswa LPDP dan belajar di University of Nottingham bisa membantu saya belajar lebih banyak tentang social entrepreneurship.
  2. Menceritakan latar belakang keluarga di dalam essay bisa membantu memberikan impression tertentu pada tim penguji. Beberapa bobot kepribadian yang disyaratkan LPDP adalah kemandirian, integritas, dan kegigihan. Kita bisa mencerminkan nilai-nilai tersebut dengan menjelaskan latar belakang keluarga yang membentuk kepribadian kita. Misalkan si A adalah seorang anak yatim yang tinggal di keluarga yang sangat sederhana. Hal ini membuatnya termotivasi untuk melakukan yang terbaik untuk ibu dan keluarganya. Sehingga dia terus membuktikannya dengan berprestasi di berbagai hal, seperti mewakili Indonesia dalam konferensi internasional di Singapura, menjadi pemimpin di organisasi X, atau memenangkan lomba debat tingkat nasional. Dengan memberikan contoh di atas, kita mungkin bisa mencuri hati tim penguji karena mereka melihat kita sebagai orang yang pantang menyerah dan suka mengasah kemampuan diri despite of having family issues.
  3. Banyak yang mengartikan "Sukses Terbesar dalam Hidup" dengan cara yang berbeda. Tema essay yang satu ini agak tricky, sebab mungkin kita akan membeberkan prestasi dan pengalaman hebat kita sebagai definisi kesuksesan. Kadang juga kita lupa essay ini adalah karya yang menggambarkan kepribadian kita. Dulu saya agak kesulitan memilih kata agar tidak terkesan sombong. Mungkin teman-teman bisa memilih kosa kata bahasa Inggris yang sopan, rendah hati, serta enak dimengerti oleh tim penguji. Sebagai tambahan, teman-teman bisa juga menceritakan tentang cara teman-teman mengatasi masa sulit dalam hidup yang menjadikan itu sebuah proses menuju kesuksesan terbesar.
  4. Setelah selesai menuliskan essay, ada baiknya teman-teman istirahat sebentar dan membaca ulang essay tersebut di lain waktu. Kadang kita tidak sadar ada bagian yang missing, typo, grammatical error, dan lain-lain. Biasanya kita baru akan tahu setelah membaca ulang essay tersebut. Di samping itu, ada baiknya kalau kita meminta tolong teman untuk membaca essay tersebut. Sebab terkadang mereka bisa melihat kesalahan yang tidak kasat mata oleh kita serta membantu mengkoreksikannya. 
  5. Melihat contoh essay teman yang sudah lulus beasiswa bisa jadi opsi bahan referensi, tapi jangan jadi plagiat ya guys. Apalagi sampai telak-telak copy paste kalimat-kalimatnya. Ada yang lebih parah, yaitu meminta teman membuatkan essay untuk kita. Dari sini saja sudah terlihat mental pengecutnya. Mana mau pihak LPDP memberikan beasiswa untuk seorang plagiat dan pemalas? Just my two cents, hehe.
  • Surat Rekomendasi. Tidak berbeda dengan beberapa berkas lainnya, LPDP menyediakan template Surat Rekomendasi serta point apa saja yang harus ada di dalamnya. Teman-teman bisa download langsung buku panduannya dari website. Biasanya kita meminta surat rekomendasi dari dosen sewaktu S1 dulu, tokoh masyarakat, atau atasan bagi yang sudah bekerja. Saya dulu meminta surat rekomendasi dari dosen yang sudah mengenal saya dengan baik dengan memberikannya template surat rekomendasi dari LPDP serta informasi seputaran jurusan S2 yang akan saya ambil. Karena jurusan S2 saya agak non linear dengan S1, maka saya juga memilih dosen yang dulu mengajarkan subjek entrepreneurship (untung dulu pernah belajar, hehe). Selain itu, karena tidak mau bolak-balik meminta tolong dengan mereka, saya meminta mereka untuk menuliskan 2-3 surat rekomendasi, yaitu surat rekomendasi untuk tes beasiswa LPDP dan surat rekomendasi untuk 2 kampus tujuan (dulu saya daftar di University of Nottingham dan University of Manchester). Selain dosen, saya juga meminta dibuatkan surat rekomendasi oleh  Kantor Dinas UMKM supaya bisa meyakinkan tim penguji kalau saya mendapatkan support dari pemerintah setempat. Oh iya, perlu diingat bahwa surat ini dibuat dalam bahasa Inggris supaya memudahkan pendaftaran di kampus tujuan maupun beasiswa LPDP
  • Curriculum Vitae (CV). Pada saat proses pendaftaran beasiswa LPDP online, kita akan disuruh mengisi formulir yang notabene adalah CV. Di sana ada kolom riwayat pendidikan, pekerjaan, pengalaman organisasi, prestasi, workshop, dan lain sebagainya. Tidak ada limitation berapa banyak yang kita tuliskan di sana. Tapi ada baiknya kita menyeleksi apa saja yang ingin kita tulis. Saya baru sadar the significance of this CV to the selection process until I came to the interview session. Semakin banyak hal yang kurang penting kita tuliskan di sana, bisa menjebak kita saat interview nanti. So, I think it will be much better if we can select the most important ones.
  • Letter of Acceptance (LoA). LPDP memang mencantumkan ini di bagian persayaratan administrasi. Tapi jangan kuatir kok guys kalau memang kita belum punya LoA dari kampus tujuan. Asalkan nanti ketika interview kita bisa menjelaskan alasan kenapa kita belum mendapatkan LoA. Saya dulu juga belum mendapatkan LoA saat masuk sesi interview. Tapi teman saya menyarankan untuk menyisipkan progress report dari LoA tersebut kepada tim penguji supaya mereka tau kita sudah kasih effort untuk kuliah S2. Waktu itu saya menunjukkan email korespondensi saya kepada pihak University of Nottingham yang menunjukkan respon positif akan menerima saya di kampus tersebut. Interviewer manggut-manggut, saya pun lega. Teman lain juga pernah berbagi kalau mereka menyelipkan email korespondensi mereka kepada calon dosen pembimbingnya. Maybe you can try to do the same thing :)

Demikianlah informasi yang tidak singkat dari saya soal pengalaman seleksi administrasi beasiswa LPDP. InsyaAllah nanti akan saya share pengalaman saat seleksi subtantif. Semoga setelah membaca tulisan ini teman-teman tidak menjadi lesu karena harus melengkapi banyaknya persyaratan. Percayalah bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Saya tidak akan bisa menikmati sendunya musim gugur di sini tanpa bekerja keras saat proses seleksi dulu. Selamat berjuang, teman-teman!

Terima kasih LPDP :)



2 comments: