Wednesday, October 5, 2016

Studi S2 (Part 1): Motivasi Kuliah di Luar Negeri

Sejak menerima kabar kelulusan beasiswa LPDP, saya menanamkan niat untuk sharing pengalaman saya ini di blog. Hal ini juga didorong oleh antusiasme teman-teman saya yang ingin tahu soal proses memilih kampus, negara tujuan, bahkan tips mendapatkan beasiswa. Sebetulnya dalam beberapa kesempatan talkshow di Bangka atau dalam obrolan santai bersama teman, saya sudah pernah menyampaikannya. Namun rasanya kurang cukup, karena mungkin ada teman-teman yang missed out beberapa point. Jadi harapan saya, tulisan ini bisa membantu.

Kalau berbagi informasi seputaran studi, rasanya ini adalah hal yang sangat subjektif. Sebab semuanya berdasarkan pengalaman, dan setiap orang punya pengalaman yang berbeda-beda. Maka dari itu saya sarankan teman-teman untuk membaca dari sumber lain, atau bertanya pada orang yang lebih berpengalaman sebagai tambahan referensi. Saya juga pernah memuat 2 tulisan pengantar sebagai gambaran umum buat teman-teman. Adapun tulisannya bisa dilihat di sini dan di sini. Tulisan kali ini saya khususkan pada hal-hal general yang banyak ditanyakan orang-orang, seperti alasan saya studi S2, kenapa saya memilih jurusan yang berbeda dengan jurusan S1, kenapa memilih Inggris, dan juga alasan saya belajar di University of Nottingham. Kalau ada kesempatan, sharing mengenai cara mendapatkan beasiswa akan saya posting di tulisan lainnya, ya.

Kenapa mau lanjut S2?
Honesty, as a non-academic person, saya sulit menemukan jawaban keren untuk pertanyaan ini. Frankly speaking, saya tidak punya rencana untuk kerja sebagai pegawai dan menjadikan S2 sebagai alasan untuk mempertinggi jenjang karir. Motivasi saya lebih kepada personal motivation. Saya ingin nantinya anak-anak saya bisa terinspirasi untuk mendapatkan higher education qualification, seperti halnya saya terinspirasi oleh almarhum bapak saya. Oh iya, saya juga punya alasan receh nih, saya ingin belajar sambil jalan-jalan (ini terbalik bukan sih? hehehe). I really love travelling, dan sepertinya akan sangat valuable jika saya "belajar" dari perjalanan travelling tersebut. Kalau alasan konkret untuk melanjutkan studi, saya ingin sekali belajar entrepreneurship supaya bisa jadi seorang pengusaha seperti ibu saya. Kalaupun nanti belum bisa jadi pengusaha, yaa mentok-mentok saya bisa cerita pengalaman saya kepada orang lain :)

Ada juga alasan religius yang menjadi pemicu semangat saya. Yaitu di dalam Al-Quran Surah Al-Mujadillah:11 yang artinya "Niscaya Allah SWT. akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.". Siapa yang tidak mau derajat naik, hayooo? Hehehe. Kalau esensi hidup adalah berbagi dan saya sedang berkekurangan harta, mungkin bersedekah yang paling mudah dan mulia adalah dengan berbagi secuil ilmu yang saya punya ini.

Mengapa memilih MSc. in Entrepreneurship, Innovation, and Management dan bukan melanjutkan di bidang Real Estate?
Setelah mendapatkan gelar Bachelor in Estate Management, saya sadar bahwa saya menghabiskan waktu 5 tahun di Malaysia untuk mempelajari hal yang bukan menjadi passion saya. Walaupun tidak sedikit yang bilang bahwa real estate adalah ladang bisnis yang menjanjikan. Lalu, saya mencari celah kira-kira jurusan apakah yang relevan untuk men-channel semua passion saya tanpa mengabaikan latar belakang pendidikan S1. Tadinya saya ingin mengambil MBA, namun ternyata MBA di kampus-kampus ternama requires a lot more than what I think of. So, dari pada gagal, lebih baik saya cari opsi lain. Dan entrepreneurship lah opsi itu. Untungnya ada beberapa subjek S1 yang masih berkaitan dengan yang saya pelajari saat ini.

Pilihan ini juga ada relasinya dengan rencana pemerintah yang menginginkan peningkatan jumlah entrepreneur di Indonesia. Big opportunity, bukan? Dosen saya Mr. Chris Mahon bilang kalau lulusan MSc. in Entrepreneurship are 3 times more likely to start new business and earn 27% higher income, also owning 62% assets dari pada lulusan MBA. Entrepreneurship is now in the top five most demanded content according to a study of 476 prospective MBA students in 79 countries. Semoga ini adalah pilihan yang tepat.

Yaz, kok prefer ke Inggris dari pada belajar di Indonesia atau negara lainnya?
Hint: This is one of the most frequently asked questions di tes interview LPDP, mungkin karena hasil survey mengatakan bahwa awardee LPDP kebanyakan belajar di Inggris. Jawaban paling familiar untuk pertanyaan ini adalah karena bahasa pengantarnya adalah Bahasa Inggris, jadi tidak perlu mempersiapkan diri buat belajar bahasa lain (misalkan saya kuliah di Belanda, paling tidak saya harus mengerti bahasa sana walaupun bahasa pengantar kuliahnya adalah Bahasa Inggris). Ada yang menanyakan saya kenapa tidak meneruskan di Malaysia saja, kan bahasa pengantarnya juga Bahasa Inggris. Bahkan mungkin lebih enak mengakses makanan halal, serta tidak terlalu jauh kalau mau pulang ke Indonesia. Bagi saya keputusan ini ada kaitannya dengan prinsip investasi "High risk, high return", semakin tinggi resiko yang saya ambil dengan berkuliah di tempat baru, semakin tinggi pula return yang saya dapatkan.

Inggris merupakan tuan rumah universitas-universitas ranking teratas di dunia. Teman-teman bisa cek di sini untuk tahu perihal ini. Salah satu alasan lain saya memilih Inggris adalah kemudahan kita memilih studi yang sesuai dengan concern yang kita inginkan. Kalau di Indonesia, tidak banyak pilihan studi S2 di bidang entrepreneurship (yang berakreditasi) yang bisa kita pilih. Sedangkan di Inggris, jurusan ini bisa ditemukan di banyak universitas. Masing-masing dari mereka punya fokus tertentu, misalkan saja fokus tentang entrepreneurship di bidang teknologi, entrepreneurship dalam bisnis global, atau manajemen sebuah bisnis. Asik, kan? Nah, teman-teman bisa cek langsung website kampus tujuan dan membandingkan modul-modul yang mereka tawarkan.

Pertimbangan saya untuk melanjutkan kuliah pastinya didorong dengan pertimbangan jangka waktu belajar yang akan saya tempuh. Negara-negara tertentu seperti Australia menawarkan jangka waktu belajar lebih dari 1.5 tahun. Sedangkan di Inggris, kita bisa mendapatkan gelar S2 dalam waktu sesingkat 1 tahun. Namun kadang tergantung dengan jurusan dan metode perkuliahannya juga (by coursework or by research). Bagi saya kuliah satu tahun sudah lebih dari cukup.

Karena menaklukkan benua Eropa adalah salah satu bucket list travelling saya, maka saya mencari negara yang bisa menjembatani cita-cita tersebut. Dalam waktu 1 tahun ini saya berharap bisa mengatur waktu belajar dan waktu jalan-jalan dengan baik. Ada yang bilang kalau keliling dunia adalah trend terkeren masa kini supaya bisa foto-foto di landmark terkenal di dunia. I think the idea must be bigger than that. We should have a sincere purpose supaya perjalanan kita punya makna. It's not like we were born just to waste our time and having fun, right? Lho, ini kok jadi serius banget, jalan-jalan aja mesti pake filosofi hahaha.

University of Nottingham itu bagus, ya? Kenapa mau belajar di sana?
Mungkin Nottingham tidak setenar London, Manchester, dan Cambridge. Jika ada yang pernah dengar kisah Robin Hood, that folklore actually took place in Nottingham. Jadi kalau teman-teman main ke sini, banyak sekali logo atau brand usaha bertemakan Robin Hood. Speaking about my way to know about University of Nottingham, saya pertama kali diberikan informasi melalui education agency yang membantu saya dalam proses aplikasi kuliah. Mereka memberikan beberapa pilihan kampus di UK dengan bidang yang sama. Dan tentunya kampus-kampus ini harus masuk list kampus LPDP. Setelah saya intip website University of Nottingham, saya jatuh cinta dengan modul yang ditawarkan. Sadar akan pentingnya exposure mengenai basic knowledge of entrepreneurship dan social entrepreneurship, maka kampus ini adalah pilihan yang tepat. FYI, saya juga apply di kampus lain sebagai opsi tambahan.

Agak berbeda dengan kampus lain, di sini mahasiswanya diberi pilihan untuk mengambil disertasi atau creating a business plan sebagai tugas akhir. Saya yang amat practical ini tentunya menyukai hal yang buat saya bisa terjun langsung mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan. Sebab menurut pengalaman saya, menulis riset jauh lebih rumit dibandingkan dengan membuat business plan. Sebetulnya ada beberapa alasan lain yang saya utarakan saat mengajukan studi plan ke pihak LPDP untuk meyakinkan mereka bahwa pilihan kampus saya adalah pilihan yang tepat. Nanti akan saya bahas di postingan selanjutnya ya. Semoga teman-teman bisa bersabar.

---

Sebagai bahan renungan, tidak jarang orang berstigma bahwa kita tidak harus ke luar negeri untuk belajar. Bahkan saya pernah mendengar pendapat yang lebih menyedihkan dan cenderung discouraging, yakni bahwa saya dan teman-teman yang sedang menempuh studi di luar negeri ini menuntut ilmu hanya demi meninggikan pride kami. Padahal outcomes yang kami dapatkan jauh dari sekedar cibiran itu. Belajar di luar negeri telah mampu membuka pikiran saya dalam banyak hal termasuk membantu saya untuk menemukan diri saya sendiri. Investasi negara dan lembaga pemberi beasiswa yang tidak sedikit tentu dengan harapan bahwa scholar yang belajar di luar negeri bisa menjadi problem solver di tanah air. Tujuan saya memberikan awareness kepada teman-teman supaya bermimpi tinggi dan berprestasi hingga tingkat internasional bukan semata-mata untuk mengajak teman-teman "melihat" dunia dari sudut pandang berbeda saja. Namun juga untuk menyadarkan bahwa kesempatan yang ada sungguh luas dan jaraknya sangat dekat jika kita ingin mencapainya.

Saya bersama sahabat saya, Widya Handini di Edensor

Saya terkadang berkaca dengan kisah saya dan Widya, teman sebangku dan sekamar saya. Kami dipertemukan di SMA Negeri 1 Pemali, sebuah sekolah di pelosok pulau Bangka. Dalam sempitnya kamar asrama juga olokan orang tentang keunikan pribadi dan kekurangan kami, kami diam-diam menaruh mimpi tinggi. Paling tidak, kami ingin merubah derajat hidup keluarga kami. Dan Tuhan membalasnya dengan sangat indah. Saya tidak pernah menyangka bisa ditakdirkan untuk berkuliah bersamanya di Malaysia dan Inggris. Kesempatan ini secara drastis merubah pribadi kami dan juga anggapan orang lain mengenai kami. Tidak menutup kemungkinan hal yang lebih besar juga bisa terjadi di hidup teman-teman ketika berkesempatan kuliah di luar Indonesia. Semoga buah pikiran saya ini bisa memberi manfaat ya :')

I once asked my teacher why she really loves studying and keep pursuing her study. I am really inspired to know that she got double master and now she is pursuing her PhD in her early 30's. She said, "My mom told me that education has a power to change how people see us, how we see the world, and how the world see us."



P
S

6 comments:

  1. haii sist. hmm still remember me? :)

    ini maulid kak, maulid sering liet foto kakak berdua di fb, keren abis.

    semoga kita anak-anak bangka menjadi pondasi masa depan kampung kita ke depannya kak. amiiiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih donk, dek. Hehe. Aaamiin. Semoga bisa sama-sama kasih kontribusi nyata ya :)

      Delete
  2. Mantap Yas, baik-baik di sane ok.. ;)

    ReplyDelete
  3. Kisahnya sangat inspiratif dan saya sangat mendukung kamu sebagai sesama alumni UM semoga sukses. Ada koreksian tulisan paling akhir dik, kita tidak bisa memberi syafaat kalo memberi manfaat iya, yang bisa beri syaat hanya Nabi Muhammad dan Al Quran. Sory koreksi sedikit atas tulisannya dik, tapi kalo kisahnya bagus banget..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Noted, Bang. Sudah saya edit. Makasih ya koreksi dan support-nya :)

      Delete